Tips Merakit “Gravel Bike”

Genre sepeda gravel yang dari negara asalnya sudah menjadi genre yang “bias”, dimana sepeda tersebut bukan RB, bukan CX, bukan MTB, dibilang persilangan pun sepertinya tidak juga. Menjadi semakin bias lagi di Indonesia yang rakyatnya kreatif dan mampu memanfaatkan berbagai sumber daya untuk membangun sepeda gravel impiannya. Hal tersebut ditunjukan dari banyaknya pembahasan “sepeda saya udah gravel belum?” di salah satu grup Facebook pesepeda yaitu GX-ID. Pantas saja banyak pertanyaan seperti itu, lha wong sepeda “gravel nusantara” ini tidak ada batasan atau pakem yang jelas. Flatbar boleh, fork suspensi boleh, ban 26″ boleh, v-brake boleh, yang penting bisa diajak blusukan.

Pemilihan Frame

Dalam dunia gravel nusantara, ada yang memodifikasi dari sepeda touring seperti United Rockford, ada yang dari sepeda hybrid seperti Polygon Path, dan tidak sedikit juga yang membangun dari MTB vintage/jadul seperti Federal dan semacamnya menjadi sepeda gravel. Jadi jika kita mau bangun gravel bike, perlu didefinisikan dulu spesifikasi apa yang kita mau dan tentunya disesuaikan dengan kebutuhan. Akan lebih mudah jika ditentukan dulu “role model” nya agar komponen yang dibeli efisien sesuai keperluan.

Foto : Maulana Muqsith
Foto : Maulana Muqsith

Berawal dari request temen saya yang sudah mengoleksi berbagai macam sepeda tapi belum memiliki sepeda gravel dan ingin dibuatkan. Saya berdiskusi dengan calon pemilik dan mendefinisikan sepeda gravel dengan influence sepeda pabrikan yang sudah saya miliki terlebih dahulu yaitu Wilier Jaroon yang kebetulan “sudah gravel” dari sananya. Berhubung teman saya ini tidak suka frame dari aluminium, material besi menjadi pilihan. Pakem sepeda gravel yaitu “drop bar and knobby tires” juga diimplementasikan dalam membangun sepeda gravel kali ini. Dari hasil diskusi kami, spesifikasi frame yang kami cari adalah sebagai berikut:

  • Frame sloppy
  • Fork rigid
  • Material besi
  • Tire clearence 700c
  • Disc brake

Dari spesifikasi diatas, bisa saja kami memilih frame spesifik sepeda gravel yang populer seperti:

  • Surly Midnight Special, Straggler
  • Pias Scarab
  • Custom frame (babahbikes, alphalab, dsb.)
    Namun karena barangnya sulit untuk didapatkan dan harganya lumayan tinggi, ditambah lagi rasa penasaran saya pada sepeda gravel built dengan basic MTB vintage, akhirnya kami memutuskan untuk memulai project ini dengan mencari frame MTB jadul pabrikan jepang, Toyo Asahi TAB3030.

Frame tersebut dipilih karena sesuai spesifikasi dan saat itu ada yang menjual dengan ukuran kecil (tinggi seat tube 16″). Kebetulan frame ini materialnya besi chromoly sehingga lebih ringan dari besi hi tensile dengan kekuatan yang sama. Ukuran kecil dipilih untuk mengkompensasi top tube MTB yang panjang agar reach tidak terlampau jauh ketika dipasangi drop bar. Hal ini perlu diperhatikan dan menjadi catatan ketika membangun sepeda drop bar menggunakan frame MTB. Selain itu, tire clearence juga menjadi pertimbangan. Karena pada dasarnya MTB jadul disetting untuk flatbar dengan ban 26″ oleh pabriknya sedangkan sepeda gravel yang dibangun akan dipasang drop bar dan ban 700c. Untungnya, TAB3030 dengan tubing butted chromoly dari Tange mengakomodasi seluruh kebutuhan tersebut, kecuali dudukan disc brake tentunya.

Foto : Maulana Muqsith
Foto : Maulana Muqsith
Foto : Maulana Muqsith

Pemilihan Groupset dan Brakeset

Dari sisi pemilihan groupset/drivetrain, lagi-lagi gravel bike membuat semua menjadi bias. Tentu saja kebanyakan orang yang memiliki budget lebih akan langsung memilih Shimano GRX atau Sram Gravel Series (contoh: Rival 1) yang memang didedikasikan untuk gravel riding. Mari kita bahas dulu apa yang menjadi fitur eksklusif dari Shimano GRX / Sram Gravel Series yang membedakannya dari seri-seri RB dan MTB.

1.Long Cage : Fitur long cage di rear derailleur groupset seri gravel memungkinkan untuk mencapai rentang rasio gigi yang besar, hingga 46t tanpa bantuan goatlink. Sehingga akan cocok digunakan di medan dan elevasi yang bervariasi. Jika memaksakan rear derailleur short-medium cage dari seri RB untuk ukuran sprocket diatas 34T, dikhawatirkan pegasnya akan cepat rusak.

2. Clutch Mechanism : Fitur clutch pada Rear Derailleur berfungsi untuk meredam hentakan rantai ketika perjalanan manjadi semakin liar yang mencegah rantai keluar dari drivetrain dan melindungi chainstay dari gesekan atau benturan dengan rantai. Fitur ini sebenarnya sudah terlebih dahulu hadir di groupset MTB, contohnya Deore M6000. Untuk lebih jelasnya, silahkan bandingkan Sram Rival 22 (road) dengan Sram Rival 1 (gravel). Meskipun speed-nya sama, Sram Rival 1 yang didedikasikan untuk gravel riding dilengkapi dengan fitur clutch sedangkan saudaranya tidak.

3. Hydraulic Brifter : Braking power system pengereman disc brake hidrolik pada dasarnya lebih besar dari disc brake mekanik. Disini pabrikan menilai untuk melewati turunan-turunan di medan ekstrim, gravel rider akan membutuhkan rem yang lebih kuat dari rim brake atau disc brake mekanik yang selama ini sudah banyak digunakan duluan oleh RB ataupun sepeda gravel pra-GRX. Caliper hidrolik sebenarnya sudah sering ditemui di groupset MTB modern bahkan yang entry level. Namun caliper hidrolik yang terintegrasi dengan brifter (shifter road) hanya ada di groupset dedicated gravel. Fitur ini penggabungan dari fitur yang sudah ada di MTB dan RB.

Foto : Maulana Muqsith
Foto : Maulana Muqsith
Foto : Maulana Muqsith

Dari tiga keunggulan groupset khusus gravel diatas sebenarnya tidak ada yang terlalu krusial untuk casual gravel grinding. Buktinya, banyak sepeda gravel pabrikan menggunakan groupset seri RB seperti Shimano Sora. Mulai dari Polygon Bend R2 hingga Cannondale Topstone. Namun memang jika gravel bike mengadopsi groupset RB, dual chainring perlu diaplikasikan karena sprocket yang digunakan “hanya” bisa 11-34T.

Untuk built sepeda gravel kali ini, saya ingin semirip mungkin dengan Jaroon yang menggunakan Sram Rival 1 dengan single chainring dan sprocket 11-42t. Karena ingin menekan budget, saya mensiasatinya dengan memanfaatkan “The beauty of Shimano 9 speed”, yaitu dimana shifter dan derailleur 9 speed Shimano seri RB dan MTB dapat dikawinkan.

Sehingga, RD yang dipilih adalah Shimano Deore M592, 9 speed. Deore ini merupakan seri lama namun sudah memiliki teknologi Shadow, yang kemudian diadopsi oleh adik-adiknya (Alivio, Acera, Altus) pada keluaran tahun selanjutnya. RD seri MTB dipilih agar RD tidak kesulitan untuk membawa rantai ke sprocket 42T. Walaupun pada prakteknya tetap menggunakan goatlink untuk menjamin shifting di gigi rendah akan selalu lancar. Untuk shifter/brifter yang digunakan adalah Shimano Sora R3000 STI 9 speed. Disinilah kunci agar drivetrain bisa menggunakan single chainring dengan range sprocket yang lebar ala Rival 1.

Foto : Maulana Muqsith

Selanjutnya adalah kompensasi fitur clutch. Untuk menjamin rantai tidak akan loncat dari chainring, single chainring yang digunakan wajib memiliki geometri “Narrow Wide”. Dimana ukuran gigi yang bersebelahan pada chainring berbeda: tipis-tebal-tipis-tebal-dst. Dengan mengaplikasikan single chainring dan tidak menggunakan front derailleur, maka sepeda menjadi lebih simpel dan perawatan untuk satu set komponen bisa dieliminasi. Bukan berarti tanpa kekurangan, rasio gear jadi tidak mendukung sepeda untuk ngebut bareng RB ataupun manjat pohon kelapa. Tapi memang bukan itu yang dicari di sepeda gravel.

Untuk pengereman, yang perlu diperhatikan adalah tarikan kabel brake lever seri RB lebih pendek dari seri MTB, disebut juga dengan Short Pull. Jadi untuk pengereman lever RB dan caliper MTB tidak bisa dikawinkan. Kebanyakan caliper disc brake mekanik yang beredar di pasaran adalah long pull untuk MTB, sehingga harus lebih jeli ketika membelinya. Caliper disc mekanik short pull yang tersedia di pasar contohnya adalah TRP Spyre dan Avid BB7. Untuk yang lebih ekonomis ada Avid BB5 dan yang paling murah Promax Render. Jika memaksa menggunakan kaliper long pull, tarikan rem akan sangat dalam sehingga tidak pakem. Selain itu, perlu diperhatikan juga dudukan caliper di frame apakah post mount atau flat mount. Untuk MTB vintage sudah jelas post mount karena nantinya dudukan disc brake akan dilas ke frame. Dudukan flat mount hanya tersedia di sepeda-sepeda keluaran baru. Saya akhirnya memilih Spyre karena sudah double piston.

Foto : Maulana Muqsith

Wheelset

Hub Freehub tidak akan dibahas disini karena tidak ada kebutuhan spesifik sepeda gravel untuk komponen ini. Saya menggunakan Hub Sram X7 dan Freehub Deore karena kebetulan tersedia di bengkel tempat membangun sepeda ini. Hub freehub dengan kualitas lebih tinggi akan lebih loncer dan lebih awet. Untuk pemilihan rims, akan sangat direkomendasikan untuk memilih rims tipe low flange agar getaran di jalanan yang kasar tidak terlalu terasa. Saya menggunakan rims Araya dengan tebal flange 2 mm.

Pemilihan ban adalah yang paling menentukan performa sepeda gravel ketimbang komponen wheelset yang lain. Dalam memilih ban, harus dianalisa terlebih dahulu medan seperti apa yang akan dilalui. Untuk performa, tekstur permukaan ban menjadi lebih penting daripada volumenya. Volume ban lebih berpengaruh ke kenyamanan. Dengan tekstur ban yang sama, volume ban yang lebih besar akan membuat riding terasa nyaman dan lebih aman, namun lebih berat ketimbang volume yang lebih kecil.

Foto : Maulana Muqsith
Foto : Maulana Muqsith

Jika medan yang dilalui kebanyakan aspal perkotaan, maka ban slick menjadi pilihan tepat. Jika medan yang dilalui perpaduan antara aspal dan gravel, maka ban semi slick adalah yang paling efisien. Sedangkan jika ingin melewati tanah basah atau lumpur, ban pacul seperti yang digunakan di MTB juaranya. Ban slick memiliki rolling resistance paling rendah jika di jalanan kering atau aspal. Sedangkan untuk tanah basah dan berlumpur, ban pacul yang memiliki rolling resistance paling rendah. Silahkan bandingkan tiga jenis Vittoria Terreno Series yaitu Zero, Dry, dan Wet sebagai contoh varian tekstur ban gravel.

Untuk volume, ban 700c gravel biasanya menggunakan pilihan lebar 32-37 dan 38-43. Pertama, memilih volume ban harus disesuaikan dengan tire clearence di frame dan di fork. Frame RB modern biasanya mentok di lebar ban 28 sehingga tidak direkomendasikan untuk dibangun menjadi gravel. Kedua, memilih volume ban sesuai dengan kebutuhan. Jika lebih mencari kecepatan maka pilih ban 32-37, jika memilih kenyamanan pilih 38-43. Untuk lebih nyaman lagi, beberapa orang menggunakan wheelset 650b yang volume bannya bisa sampai 47.

Saya memilih ban WTB Byway 700x34c karena Byway memiliki tekstur semi slick ditengahnya yang sangat ideal untuk jalanan aspal, singletrack, tanah kering, ataupun gravel ringan. Dan memiliki tekstur knobby di sampingnya untuk cengkeraman saat cornering. Sedangkan volume 34mm adalah yang paling maksimal bisa dipasang dengan tire clearence frame TAB3030.

Foto : Maulana Muqsith

Cockpit

Yang terakhir dan tidak kalah penting adalah pengaturan cockpit. Pemilihan handlebar sangat berpengaruh untuk feel berkendara selama bersepeda. Dengan menggunakan stang yang berbeda, gaya riding sepeda yang sama akan berubah total. Karena keperluan untuk gravel, saya menggunakan dropbar yang 20mm lebih lebar dari dropbar RB pengendara. Teman saya biasa menggunakan dropbar 400mm di RB-nya. Maka saya pasangkan dropbar dengan lebar 420mm dan flare 12 derajat di sepeda gravel-nya. Handlebar yang lebih lebar akan meningkatkan stabilitas saat berkendara di medan yang kasar, namun mengurangi kelincahan atau handling. Sedangkan flare 12 derajat berfungsi untuk mengurangi rasa sakit pada bahu ketika harus melewati jalanan jelek seperti makadam karena posisi tangan menjadi lebih natural. Banyak juga orang yang memilih Ritchey Venturemax dengan flare 24 derajat untuk sepeda gravel-nya demi mendapatkan kenyamanan ekstra. Dengan adanya fitur flare pada dropbar, kerpercayan diri ketika melewati singletrack dan turunan ekstrim juga meningkat.

Dropbar di sepeda gravel tidak berfungsi untuk mendapatkan posisi aero. Fungsi dropbar disini lebih seperti handlebar untuk touring, yaitu kenyamanan dan variasi posisi tangan. Seperti pada posisi berkendara sepeda touring, dropbar di sepeda gravel tidak boleh membuat posisi berkendara terlalu bungkuk. Karena yang dicari adalah kenyamanan bukan aerodinamis. Maka pemilihan stem dan ketinggian steer tube perlu diperhatikan dan disesuaikan dengan bentuk tubuh pengendara. Untuk teman saya yang menggunakan stem 70 mm di RB nya, saya memasangkan stem 60 mm untuk sepeda gravel-nya ini. Reach lebih pendek 10mm untuk mendapatkan posisi riding yang lebih upright.

Foto : Maulana Muqsith

(Maulana Muqsith)

Leave a Reply

Konsultasi WA
Hallo Sobat Portal Sepeda!!
Silahkan kirim pesan WA untuk pertanyaan Sobat Portal seputar sepeda.

Nama :
Kota :
Kode Member :
Pertanyaan :

*nb : untuk mengetahui Kode Member silahkan Login terlebih dahulu
Powered by