The Transcontinental Race, Balap Sepeda Lintas Eropa

The Transcontinental Race

Sebuah kejuaraan balap sepeda yang tidak biasa digelar setiap tahunnya di Eropa, The Transcontinental Race. Jika mendengar balap sepeda yang terlintas dibenak kita adalah sebuah adu kecepatan sepeda dalam satu kali balapan Start hingga Finish yang dapat diselesaikan dalam hitungan jam saja. Namun berbeda jauh dengan balapan yang satu ini, balapan ini merupakan gabungan antara adu kecepatan dan touring sepeda atau dikenal dengan istilah Ultra Race. The Transcontinental Race ini rutin diadakan setiap tahunnya sejak 2013.

Peserta The Transcontinental dari berbagai macam negara dan usia baik pria maupun wanita
Ben Davies ketika berada di Passo Gardena

Dilansir dari transcontinental.cc The Transcontinental Race adalah balap sepeda mandiri melintasi Eropa. Pada ujung yang tajam itu adalah perlombaan sepeda yang “keras”, konsep yang sederhana tetapi tidak mudah dalam eksekusi pelaksanaannya. Faktor kemandirian, logistik, navigasi dan penilaian membebani pikiran pembalap serta fisik mereka. Meski ada penilaian atau skor tersendiri dari pihak penyelenggara namun banyak pembalap berpengalaman hanya menargetkan finish.

Diterpa angin kencang
sumber foto : @angusung
Jalan yang dilalui tidak sepenuhnya jalanan beraspal
sumber foto : blog.strava.com

The Transcontinental adalah perlombaan satu tahap di mana jam tidak pernah berhenti. Pengendara merencanakan, meneliti dan menavigasi jalan mereka sendiri dan memilih kapan dan di mana untuk beristirahat. Mereka hanya akan mengambil apa yang bisa mereka bawa dan hanya memakan apa yang bisa mereka dapatkan selama perjalanan. Empat titik kontrol atau Check Point wajib memandu rute mereka dan memastikan jumlah pendakian yang sehat untuk mencapai beberapa monumen bersepeda yang paling indah dan bersejarah. Setiap tahun peserta The Transcontinental menempuh sekitar 4000 km untuk mencapai garis finish. Sepeda yang wajib digunakan adalah sepeda Road Bike 700c dengan model Bikepacking dan ban gravel.

Peserta bermalam di samping sepeda
sumber foto : @jprobertson
Perlengkapan yang dibawa setiap peserta

Selama perjalanan panjang ini hanya terdapat 4 Check Point setiap 1000 km yang ditempuh peserta. Lokasi Check Point tersebut antara lain CP 1 di Buzludzha (Bulgaria), CP 2 Vraniska Banja (Serbia), CP 3 Passo Gardena (Italia) dan CP 4 Alpe D’Huez (Perancis) yang memiliki rute sulit karena harus melahap tanjakan hingga ketinggian 2600 mdpl. Bukan perkara mudah mencapai titik finish dengan jarak 4000 km, cuaca panas dan hujan menjadi sajian sehari-hari dengan total waktu tempuh belasan hari melewati beberapa negara Eropa.

Rute peserta The Transcontinental melewati beberapa negara Eropa sejauh 4000km
Setiap peserta menggunakan GPS sebagai pemandu rute agar tidak tersesat
sumber foto : @rosshomas83

Kejuaraan ini di bagi 3 kategori yakni Solo (perorangan) dan Pairs (tim yang terdiri dari 2 peserta). Perbedaanya yakni untuk kategori Pairs peserta dalam tim yang sama diperbolehkan untuk saling berbagi makanan, perlengkapan, informasi dan segala kebutuhan yang dimiliki peserta tersebut, sedangkan kategori Solo peserta tidak diperbolehkan melakukan hal-hal tersebut alias semuanya dilakukan masing-masing. Bahkan pihak penyelenggara membuat 10 aturan khusus yang harus ditaati setiap peserta yang mengikuti lomba ini.

Segala kendala diselesaikan sendiri tanpa bantuan tim support
10 aturan lomba

Setiap peserta juga dipasangi GPS dan juga Tracker (pelacak) sebagai penanda keberadaan setiap peserta yang bisa dilacak 24 jam. Tracker ini juga berfungsi sebagai validasi pecatatan waktu tempuh setiap peserta mencatat jarak tempuh dan juga elevasi medan yang dilalui. Selain itu juga yang unik setiap peserta tidak diberi nomor punggung melainkan diberikan topi alias Cap Number dengan nomer yang berbeda masing-masing peserta. Waktu bersepeda setiap detiknya terus dihitung, bahkan saat peserta bermalampun tetap dihitung waktunya, tidak hanya saat mengayuh sepeda saja. Ada 2 skema penilaian dalam balapan ini yakni Control Point dan Control Parcours.

Setiap peserta dipasangi Tracker / pelacak

Control Point adalah stasiun tetap, sering kali merupakan bisnis lokal seperti hotel, di mana staf lomba memvalidasi kedatangan pembalap dengan mencatat kedatangan dan waktu mereka mencap Brevet Card (kartu lomba) mereka. Poin kontrol ditetapkan oleh tim produksi dan media yang akan tiba di satu atau lebih kendaraan kontrol. Mereka kemudian dijaga oleh sukarelawan secara bergiliran hingga waktu penutupan kontrol. Kegagalan untuk melaporkan di salah satu titik kontrol akan berarti bahwa pengendara tidak lagi memenuhi syarat untuk dimasukkan dalam klasifikasi finishers. Poin Kontrol terbuka dari saat kedatangan pengendara pertama, hingga tanggal yang ditentukan dalam Brevet Card. Setelah waktu ini, kontrol akan ditutup dan tidak lagi dijaga. Pembalap yang tiba setelah penutupan kontrol tidak termasuk dalam Klasifikasi Umum tetapi tetap berada dalam lomba.

Pengecekan peserta di Check Point

Control Parcours adalah panjang rute tetap yang harus diselesaikan oleh peserta sebagai bagian dari kunjungan kontrol mereka. Titik kontrol akan terletak di suatu tempat di rute ini, sering di awal atau selesai. Control Parcours sering mencakup lintasan melintasi medan yang sangat indah atau menantang atau melalui area yang penting atau menarik. Biasanya wajib setelah kontrol telah ditutup dan pelacak peserta atau bukti lain dapat memenuhi persyaratan untuk menunjukkan itu telah dilewati setiap peserta.

Brevet Card yang harus distamp/dicap pada setiap Check Point

Tahun 2019 ini atau tahun ke tujuh pelaksanaan The Transcontinental ini tercatat sebanyak 259 nomer peserta dari berbagai negara di Eropa mengikuti The Transcontinental 2019 atau disingkat #TCR07. Minggu pagi (28/07/19) para peserta #TCR07 memulai start dari Kota Burgas, Bulgaria. Fiona Kolbinger (cap #66) wanita berusia 24 tahun yang  berprofesi sebagai dokter di Jerman ini tercatat sebagai peserta pertama yang mencapai garis finish di Kota Brest, Peranci, dengan catatan waktu 10 hari 2 jam 48 menit. Posisi kedua disusul oleh Ben Davies (cap10) dengan catatan waktu 10 hari, 13 jam and 10 menit. Sedangkan posisi ketiga diraih oleh ob Hendrickx (cap240) dengan catatan waktu 10 hari, 15 jam and 48 menit. Perlombaan ini dilaksanakan selama 15 hari dari tanggal 28 Juli – 11 agustus 2019 lalu.

Juara Kesatu #TCR07, Fiona Kolbinger (cap #66)
Juara Kedua #TCR07, Ben Davies (cap10)
Juara Ketiga #TCR07, Hendrickx (cap240)

Bagaimana sobat gowes sungguh menantang memacu adrenalin bukan ? tak hanya soal adu kecepatan saja tetapi juga mengenai ketahanan fisik dan keterampilan teknis bersepeda jarak jauh. Hmm, apakah di Indonesia akan ada perlombaan semacam ini ?

Foto-foto : transcontinental.cc

Editor : Agus Septian Heryanto

Leave a Reply

Konsultasi WA
Hallo Sobat Portal Sepeda!!
Silahkan kirim pesan WA untuk pertanyaan Sobat Portal seputar sepeda.

Nama :
Kota :
Kode Member :
Pertanyaan :

*nb : untuk mengetahui Kode Member silahkan Login terlebih dahulu
Powered by