Login

Register

Login

Register

Test Ride Polygon Path E5

Path E5, sepeda pedal elektrik terbaru dari Polygon

Menyambut 30 tahun ulang tahun pabrikan sepeda lokal Polygon meluncurkan dua sepeda listrik, Polygon Path E5 dan Sage V3. Kedua sepeda tersebut adalah sepeda listrik dengan sistem pedal elektrik. Sistem tersebut menggunakan sensor (torsi atau putaran pedal) untuk mengendalikan motor listrik untuk membantu kayuhan pedal. Sistem ini tidak menggunakan putaran gas (throttle) untuk mengeluarkan tenaga motor listrik.

Polygon Path E5 menggunakan drive unit (motor penggerak) Shimano E5000 yang diluncurkan bulan Mei 2019 lalu. Drive unit Shimano menggunakan sensor torsi untuk mengendalikan keluaran tenaga. Penggunaan sensor torsi membuat keluaran tenaga lebih mudah dan terasa lebih alami dibanding menggunakan sensor putaran pedal karena tenaga yang dikeluarkan motor listrik disesuaikan dengan torsi yang diberikan pengendara.

Sepeda yang didesain untuk keperluan turing ini diluncurkan melalui event “Touring E Bike Polygon 2019”. Event ini menjadi pembuktian sepeda yang saat ini menjadi sepeda listrik termurah dengan drive unit berbasis torsi. Peserta dari berbagai latar belakang seperti peturing, Budi “Contador” Chandra, pembalap downhill Khairul Annas (tim Spartan), pekerja kantoran, dan latar belakang lain menjajal sepeda ini. Di event ini, jarak 220 kilometer per charge baterai 504 Wh dapat ditempuh di rute datar. Sementara untuk rute tanjakan, di etape lainnya sepeda yang dites oleh 5 orang petouring ini mampu menaklukkan tanjakan dengan elevation gain hampir 2000 meter dengan jarak tempuh 80 kilometer.

Polygon Path E5, sepeda pedal elektrik Polygon bergenre touring. Photo: Polygon Bikes

Di luar soal tenaga listrik, Polygon membangun karakter sepeda turing dengan identitas yang sedikit berbeda untuk Polygon Path E5 ini. Jika umumnya sepeda touring menggunakan geometri santai, sepeda ini menggunakan geometri yang lebih agresif dari sepeda turing umumnya, lebih seperti mengendarai sepeda gravel. Path E5 mudah dikendalikan saat digunakan bersepeda agresif. Selain geometri, komponen yang disematkan sangat mendukung gaya bersepeda ini. Penggunaan garpu karbon thru axle 12 mm dengan batang stir melancip (tapered steer tube) menahan beban yang terjadi saat sepeda ini diberi tenaga, berbelok tajam, atau menahan beban bawaan saat turing.

Ban Schwalbe Super Moto X ukuran 27,5 x 2.4, seukuran dengan sepeda gunung enduro, membuat dua keuntungan yang berbeda. Saat digunakan dengan santai, sepeda ini terasa empuk untuk menikmati perjalanan. Di sisi lain, saat digunakan secara agresif, ban berukuran besar ini menempel di permukaan aspal hingga lahan offroad keras dengan baik. Walaupun ukuran ban cukup besar, namun rolling resistance ban bertapak mulus dengan alur dangkal ini cukup kecil.

Untuk penggunaan touring murni, absennya rak depan sedikit membuat sepeda terasa ringan di depan, sayangnya rak depan Polygon Bend RIV yang mempunyai mounting sama degan Path E5 sudah langka di pasaran. Penggunaan rak depan dapat memperbaiki keseimbangan titik berat kembali ke depan saat pannier sudah dipasang.

Keseimbangan juga menjadi kelemahan pada pengereman. Rem Shimano BR MT201 dengan rotor depan 6 inci sebenarnya sudah cukup untuk menahan laju Path E5. Sayangnya kekuatan rem belakang dengan rotor 7 inci membuat pengereman Path E5 tidak seimbang. Sayangnya rotor Shimano RT-EM600-M terintegrasi dengan sensor kecepatan, sementara suku cadang tersebut belum beredar di Indonesia. Solusi lain yang bisa dilakukan adalah memperbesar rotor depan menjadi 7 inci walau dudukan flat mount Path E5 tidak didesain untuk rotor lebih besar dari 6 inci.

Untuk penggunaan turing pula, Budi Contador mengungkapkan perlunya rasio gir yang lebih rendah untuk menaklukkan tanjakan terjal dengan beban berat. Penggunaan gir drive unit 44T dan gir belakang 11-34T memang sedikit terlalu tinggi untuk kegiatan turing yang umumnya dilakukan dalam kecepatan relatif rendah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *