Terbuat dari Apa Sepeda Berikutmu? Bagian II, Titanium dan Karbon

Pembuatan rangka sepeda karbon. Foto: Cyclingtips

Setelah pada artikel sebelumnya dibahas baja dan aluminum sebagai bahan rangka sepeda yang paling umum digunakan, kita akan bahas material lainnya.

Serat Karbon atau grafit adalah material non logam yang paling banyak digunakan sepeda. Rangka sepeda karbon dibuat sebagai “kain” serat karbon yang direkatkan dengan resin sebagai perekatnya. Sifat karbon bisa disesuaikan dengan kebutuhan dengan mengubah orientasi lapisan serat karbon. Karena teknik pembuatannya yang khas, sepeda serat karbon dapat memiliki bentuk yang unik, lepas dari batasan bentuk sambungan pipa.

Karena kesulitan pembuatannya, pada awal kehadirannya rangka sepeda serat karbon banyak digunakan untuk keperluan kompetisi. Saat ini komponen berbahan serat karbon sudah mulai terjangkau. Garpu sepeda karbon sudah digunakan di sepeda balap kelas pemula, sementara harga sepeda dengan rangka sepeda serat karbon termurah sudah mulai setara dengan harga sepeda dengan rangka aluminum kelas menengah.

Pengelasan rangka sepeda Titanium. Foto: Seven Cycles

Titanium adalah material sepeda paling mahal, awet, dan paling kuat. Titanium juga memiliki sifat sangat fleksibel, tahan karat. Mahalnya material titanium ditambah dengan sulitnya pengerjaan titanium. Kerasnya titanium membuat perkakas untuk mengolah logam ini cepat aus. Pengelasan titanium pun harus dilakukan secara inert (tidak terkena udara bebas). Kesulitan tersebut membuat rangka sepeda titanium hingga kini harganya relatif mahal. Dekade 1990-an beberapa pabrikan mencoba membuat rangka sepeda titanium di tingkat harga yang lebih rendah, namun saat ini tren tersebut tidak berlanjut.

Paduan yang paling banyak digunakan untuk rangka sepeda adalah paduan Titanium 3Al/2.5V dan 6Al/4V, angka tersebut adalah angla persentase paduan titanium dalam material. 6Al/4V lebih mahal, ringan, dan kuat, tapi lebih sulit untuk diolah.

Selain baja, aluminum, serat karbon, dan titanium, beberapa sepeda dibuat dari bahan yang tidak biasa. Bambu misalnya, digunakan Singgih Susilo dari Temanggung sebagai bahan pembuat sepeda, sementara di belahan dunia lain Craig Calfee juga menggunakan material yang sama. Selain bambu, Itera menggunakan plastik sebagai bahan pembuat sepeda.

Di kalangan awam banyak terjadi salah kaprah dengan merujuk jenis bahan sebagai indikasi bobot, kekuatan dan keawetan material. Pada umumnya stereotip sepeda besi sebagai sepeda murah dan kuat, sepeda aluminum sebagai sepeda ringan dan mempunyai umur pakai, karbon yang ringan dan sedikit ringkih, titanium yang ringan dan mahal kuat melekat pada pesepeda. Pada prakteknya sifat-sifat tersebut lebih ditentukan bagaimana pembuatnya meracik bahan yang digunakan. Pengerjaan penipisan (butting) dan pembentukan (forming) pipa, penyambungan,  geometri pipa sepeda, dan lain-lain lebih berpengaruh daripada jenis bahannya, walaupun untuk mendapatkan sifat yang mirip dengan bahan yang berbeda tentu membutuhkan teknik yang berbeda.

Sepeda dari baja misalnya, terutama chromoly dianggap sebagai bahan yang terkuat dan awet. Sebelum bahan lain digunakan untuk sepeda kompetisi, baja adalah material pembuat sepeda kompetisi. Tentu saja sebagai sepeda kompetisi, sepeda baja tersebut dibuat ringan, sangat ringan hingga sepeda tersebut hanya bisa digunakan satu musim saja sebelum dipensiunkan atas alasan keamanan. Sebaliknya, serat karbon yang dianggap ringan dan ringkih sekarang mulai digunakan untuk sepeda entry level dengan kekuatan yang cukup walau bobotnya meningkat.

Leave a Reply

Konsultasi WA
Hallo Sobat Portal Sepeda!!
Silahkan kirim pesan WA untuk pertanyaan Sobat Portal seputar sepeda.

Nama :
Kota :
Kode Member :
Pertanyaan :

*nb : untuk mengetahui Kode Member silahkan Login terlebih dahulu
Powered by