Tarwi : Kekuatan Tekad, Disiplin dan Mental Sang Juara

Coach Puspita (kanan) saat menjelaskan komponen sepeda yang dipakai Tarwi / foto : portalsepeda.com

Pantas rasanya jika kita menyebutnya sebagai sang legenda, mengingat prestasinya yang begitu gemilang di kancah balap sepeda. Entah berapa banyak medali atau piala yang ia raih selama ini dalam kejuaraan-kejuaraan balap sepeda baik tingkat daerah, nasional hingga internasional. Ya, ia adalah Tarwi, legenda balap sepeda Indonesia.

Suatu kesempatan berharga bagi Forum Komunikasi Komunitas Pesepeda se-Bandung Raya dan portalsepeda.com untuk dapat berbincang langsung dengan salah satu legenda pebalap sepeda Indonesia, Tarwi. Ditengah perjalanan “Tour De Java Is Back 1.100 KM”, Tarwi dan tim menyempatkan untuk mengisi talkshow di kantor portalsepeda.com Jl. Pelajar Pejuang 45, No. 43, Kota Bandung pada Kamis sore (24/09).

Dalam talkshow ini dihadiri pula oleh Dinas Perhubungan Kota Bandung yang sekaligus memberikan sambutan acara. Tentunya sambutan juga diberikan oleh Sigit Wiriyatmo selaku founder portalsepeda.com. Talkshow yang mebakar motivasi dan memberi inspirasi bagi pesepeda ini disampaikan dengan apik oleh para narasumber dipandu oleh Windu Mulyana selaku pembawa acara.

Sesi talkshow diawali dengan pertanyaan mengenai apa yang menjadi latar belakang Tarwi melakukan perjalanan ini. Ia menjelaskan bahwa perjalanannya ini untuk memberi motivasi kepada atlet-atlet sepeda Indonesia dan untuk bertemu kawan-kawan “seperjuangannya” dahulu selama perjalanan.

“Kenapa saya melakukan ini ? saya ingin memberikan motivasi kepada atlet-atlet agar tetap semangat berprestasi. Saya ingin anak-anak mudah tetap semangat dengan bersepeda, saya bisa melakukan perjalanan jauh ini saya harap merekapun bisa. apalagi saat ini ditengah pandemi dengan tidak adanya kejuaraan-kejuaraan sepeda di Indonesia, dengan ini saya memberi motivasi kepada para atlet sepeda untuk selalu semangat.” ucap Tarwi sang legenda balap sepeda.

Meski awalnya sempat dilarang oleh keluarga, namun perjalanan ini telah diselesaikan dengan lancar dan finish di Jakarta (26/09) lalu.

“Awalnya keluarga melarang bapak untuk melakukan perjalanan ini. Keyakinan atau tekad bapaklah yang akhirnya membuat kami sekeluarga yakin untuk melaksanakan perjalanan bapak ini. Saya makin yakin mendampingi papah karena ada Coach Puspita yang mendampingi juga. Beliau tulus sekali melakukan perjalanan ini tidak hanya sekedar gowes tapi juga ingin mengunjungi teman-temannya selama di perjalanan.” Ucap Oni salah satu puteri dari Tarwi.

“Persiapan untuk perjalanan ini kami siapkan dengan serius. Karena bagi saya yang seorang pelatih saya berkewajiban mengamankan seorang pebalap agar aman dan safety mulai dari kesehatannya dan semua faktor lainnya. Sewaktu tes dikesehatan di Unesa, fisik beliau sangat bagus sehingga diijinkan untuk melakukan perjalanan ini.” jelas Coach Puspita menambahkan.

Tarwi (kanan) dan salah satu puterinya, Oni

“Pak Tarwi adalah ayah dan pelatih dari pebalap-pebalap sepeda Indonesia. Beliau adalah mentor saya, pelatih saya dan bapak saya. Hal yang paling adalah bagaimana seorang pelatih bisa masuk sebagai orangtua. Karena orangtua akan mengetahui kelebihan dan kekurangan anaknya. Begitu pula halnya dengan pelatih dan anak didiknya.” sambung Coach Puspita

Hebatnya, dalam usia yang sudah tak lagi muda, Tarwi bisa mencapai Top speed 65 km pada saat melintasi daerah Gombel. Selain itu rata-rata kecepatannya 30.4 km / jam saat jalan datar, dan pada saat tanjakan rata-rata kecepatan 22 Km / jam. Sedangkan rute terjauh saat etape pertama dari Surabaya – Rembang dengan jarak 210 Km.

Meski sempat terkendala ijin untuk finish di Velodrome Rawamangun, namun akhirnya ia bersama rombongan diijinkan memasuki Velodrome Rawamangun setibanya di Jakarta pada Sabtu siang (26/09). Tarwi pun bercerita sedikit mengenai awal mula sebelum didirikannya Velodrome Rawamangun tersebut.

“Sebelum dibangun, saya sudah sering pakai. Awal mulanya velodrome itu adalah saat saya diturunkan di Bangkok tahun 70-an. Tetapi di Jakarta belum punya velodrome waktu itu sehingga saya harus latihan di Semarang sebagai satu-satunya velodrome di Indonesia kala itu.” ucap Tarwi.

Pada kesempatan ini juga Tarwi dan Coach Puspita memberikan tips-tipsnya bagaimana menjadi atlet balap sepeda. Taarwi menjelaskan bahwa modal bersepeda itu adalah melawan diri sendiri, bukan orang lain. Artinya adalah kita harus disiplin, harus memiliki program yang sudah dipirkan matang-matang oleh pelatih. Dan itu harus benar-benar dilaksanakan agar mendapatkan hasil yang maksimal.

“Saya mempunyai beberapa pedoman bagi pebalap sepeda. Yang pertama adalah Fisik, tidak mempunyai penyakit-penyakit yang membahayakan. Kedua adalah taktik, kita harus mempunyai taktik saat saat balapan, karena lawan kita mempunyai taktik-taktik tersendiri saat balapan. Ketiga adalah teknik, harus memahami bagaimana teknik-teknik bersepeda yang baik. Sedangkan yang paling utama adalah mental. Kemudian setelah itu semua dimiliki, kita harus berlatih. Dalam berlatih itu kita harus tahu ukurannya. ” jelas Tarwi

Tarwi juga menjelaskan bahwa modal untuk dirinya bisa kuat adalah karena pendidikan berat sejak kecil. Lalu disiplin adalah yang paling penting. Ada hal unik yang diutarakan olehnya bahwa untuk menjaga kekuatan fisiknya selain dengan rutin olahraga ia juga rutin mengkonsumsi makanan/minuman manis, bahkan ia menyebut dalam satu bulan bisa menghabiskan 10 kilogram gula.

foto : portalsepeda.com

“Saya ingat kata-kata pertama beliau yang menjadi falsafah hidup saya. Ada start, ada finish. Artinya adalah saat kita melakukan start maka kita harus menyelesaikannya dengan finish. Jika kita sudah memulai maka selesaikanlah. Lalu bagaimana untuk bisa finish, tentunya dengan berlatih.” ucap Coach Puspita. Coach Puspita tak lain adalah muridnya Tarwi pada saat menjadi pebalap sepeda sebelum meneruskan karir menjadi pelatih sepeda.

Selain itu, Tarwi dan Coach Puspita juga memberi “wejangan” untuk pesepeda saat ini yang lebih mementingkan pamer dibanding jam terbangnya.

“Sepedaan itu sehat. Kalau sepeda tidak sehat ya mending gausah sepedaan. Apalagi buat pamer malah bikin sakit hati karena gaada ujungnya. Maka dari itu saya anjurkan bersepeda itu yang penting rutin, jangan sampai berhenti. Saya rutin bersepeda sejak SR (Sekolah Rakyat) kelas 5. Kalau dihitung saya bersepeda sudah 65 tahun dan terjun di dunia balap sepeda sudah 21 tahun.” ucap Tarwi.

“Betul kata Pak Tarwi Pamer sepeda memang bikin sakit hati, mau berapapun harganya ada. Tapi ya percuma kalau tidak dikayuh, yang penting itu niatnya. Hal itu Pak Tarwi buktikan dengan sepedanya ini. Upgrade lah badan kita agar bisa gowes maksimal. Karena dalam bersepeda itu badannya sepeda, mesinnya itu manusia.” tambah Coach Puspita.

Pada sesi tanya jawab, ada audience yang menanyakan spec dari sepeda yang digunakan oleh Tarwi. Jika dilihat memang sepeda tersebut dirancang/disesuaikan khusus meski dengan komponen “yang seadanya” namun dapat menghasilkan performa yang optimal bagi Tarwi. Tentunya sepeda ini membuat banyak pesepeda yang penasaran.

United Sterling sepeda yang digunakan Tarwi dalam perjalanan “Tour De Java Is Back” / foto : portalsepeda.com

“Sepeda ini merupakan pemberian sepeda dari CCC (Custom Cycling Club), pada saat diberikan tidak ada komponennya. Jadi komponennya diambil dari sepeda Mosso yang lama, karena beliau itu punya 36 sepeda. Tetapi karena kecintaannya pada atlet-atlet sepeda lainnya, sepeda beliau tinggal 10. Kita lihat sepeda ini sepeda carbon tapi komponennya gaada yang branded. Uniknya untuk shifting tidak menggunakan brifter, karena “meng-kanibal” komponen dari sepedanya yang lain. Dan ini dikerjakan beliau sendiri dalam waktu kurang dalam 12 jam, padahal baru kemaren frame nya baru diambil dari Solo.” jelas Coach Puspita.

Pada akhir sesi talkshow diisi oleh Sufyan Saori yang merupakan atlet paralympic. Tidak lain ia adalah anak didik dari Coach Puspita yang telah meraih berbagai prestasi di kancah internasional. Dalam kesempatannya, Sufyan Saori mengucapkan rasa terimakasihnya kepada Tarwi dan Coach Puspita karena telah berjasa mendidiknya menjadi seorang pebalap sepeda profesional yang telah mengharumkan nama Indonesia.

Sufyan Saori atlet Paralympic Indonesia / foto : portalsepeda.com

“Saya banyak belajar dari Pak Tarwi, dan itulah yang saya terapkan ke anak-anak didik saya. Yang saya latih pertama kali bukan fisiknya, tapi mentalnya. Apa bisa saya juara ? yakin pasti bisa. Nah kenapa Sufyan Saori bisa berhasil seperti ini itu korelasinya apa yang diajarkan secara turun temurun, dari Pak Tarwi ke saya, saya ke Sufyan Saori, Sufyan Saori ke anak didiknya dan seterusnya.” tutup Coach Puspita.

Sesi talkshow pun selesai dan diakhiri dengan foto bersama. Dalam talkshow ini pelajaran yang kita dapat adalah mengenai keyakinan/tekad, disiplin dan mental. Dengan ketiga hal tersebutlah apapun keinginan kita dapat kita capai hasilnya.

(Agus Septian Heryanto)

Leave a Reply

Konsultasi WA
Hallo Sobat Portal Sepeda!!
Silahkan kirim pesan WA untuk pertanyaan Sobat Portal seputar sepeda.

Nama :
Kota :
Kode Member :
Pertanyaan :

*nb : untuk mengetahui Kode Member silahkan Login terlebih dahulu
Powered by