Sepeda dari masa ke masa (Bagian 2) : Draisienne, Tonggak Penting Inovasi Menuju Sepeda Masa Kini

Draisienne, peserta IVCA RALLY 2018 di Bali / foto : IRWAN AKHMAD

Sebagaimana disajikan pada bagian pertama artikel “Sepeda dari Masa ke Masa”, inovasi terus berlangsung menuju penyempurnaan hingga tampak seperti sepeda yang kita gunakan secara umum hari ini.

Salah satu tonggak penting berkembangnya kendaraan manumotif ini adalah kehadiran draisienne. Ya, 202 tahun silam, tepatnya 12 Juni 1817, seorang berkebangsaan Jerman bernama Karl Drais von Sauerbronn mendemonstrasikan alat transportasi hasil penemuannya, draisienne. Saat itu, pria kelahiran Karlsruhe, Baden, 29 April 1785 memperlihatkan buah karyanya kepada khalayak di sepanjang jalan termulus sekaligus terbaik di Mannheim, Jerman.

Drais melakukan uji coba pertamanya. Ia menempuh perjalanan dengan menunggang kendaraan barunya itu melalui jalan strategis ke Schwetzinger di sepanjang rute pos. Tak lebih dari satu jam, ia kembali setelah menyelesaikan kayuhan perjalanan pergi pulang sekira 8-9 mil dengan kecepatan 5-6 mil per jam. Uji coba kedua dilakukan dari Gernsbach ke Baden melewati bukit dengan ketinggian 800 kaki yang terkenal curam dengan kecepatan rata-rata 4 mil per jam dan mampu mengurangi separuh waktu perjalanan biasanya.

Draisienne
foto : polskieradio.pl

Namun, laufmaschine karya Drais rupanya menuai pro dan kontra dari masyarakat. Kehadiran mesin berjalan atau vélocipédé dengan dua roda sejajar berbingkai kayu tersebut disambut hangat meskipun sebagian menilainya biasa saja. Hal ini tak lepas dari anggapan bahwa draisienne terinspirasi dari célériféré yang dikembangkan pada tahun 1790 di Prancis.

Perbedaan yang signifikan, meski cara melajukannya sama persis dengan célériféré, mesin Drais dilengkapi kemudi yang bisa dikendalikan penunggangnya. Oleh sebab kemudi yang mampu diarahkan inilah masyarakat tak lagi menilainya sebagai mainan anak-anak. Begitu juga tali yang terhubung dengan roda belakang yang berfungsi memperlambat laju. Akan tetapi, tali ini tak begitu mumpuni sebagai komponen rem sehingga alas kaki pengendara masih berperan dalam menghentikan gerak roda.

Untuk melajukan mesin, penunggang mesti mengangkangi draisienne dan duduk di atasnya, lalu bergerak seperti berjalan atau berlari dengan kaki menyapu permukaan tanah. Tak heran, banyak sindiran yang mengemuka, salah satunya : “Tuan Drais pantas mendapatkan rasa terima kasih dari tukang sepatu karena ia telah menemukan cara yang optimal untuk memakai sepatu.”

Draisienne
foto : wikipedia.org

Diceritakan, sisi lain dari apa yang Drais temukan berkaitan dengan terjadinya letusan dahsyat Gunung Tambora di Indonesia (dulu Hindia Belanda) pada 5 April 1815 yang dampaknya mempengaruhi iklim global. Ledakan vulkanik terbesar tersebut mengakibatkan awan abu yang mendinginkan suhu rata-rata 3 derajat Celcius di Eropa dan Amerika Utara. Banyaknya kuda yang mati saat itu membuat draisienne kian populer sebagai kendaraan baru pengganti kereta kuda.

Pada Oktober 1817, Drais menerbitkan brosur laufmaschine. Dalam brosur iklan sebanyak tiga halaman itu disebutkan, pelanggan boleh berinvestasi atau memesan desainnya. Tahun berikutnya, ia kembali menerbitkan brosur di Prancis dan mengganti namanya menjadi vélocipédé.

Draisienne, peserta IVCA RALLY 2013 di Ceko
foto : dok. Paguyuban Sapedah Baheula Bandoeng

Pada 12 Januari 1818, Drais mendapatkan hak paten atas penemuannya itu dari negara bagian Baden, Jerman. Pada tahun yang sama, draisienne mulai dikembangkan Denis Johnson di Inggris. Di negeri Tiga Singa, rancang bangun sepeda ini dikenal dengan nama hobby horse atau dandy horse. Johnson perlahan meningkatkan desain draisienne dan memproduksi keturunan-keturunannya sehingga makin banyak diminati.

Pada masanya, dalam waktu singkat draisienne menjadi sangat populer dan menarik perhatian masyarakat khususnya di Eropa. Namun, lambat laun keberadaannya pun memudar. Salah satu penyebabnya adalah alat transportasi tanpa kuda ini masih dianggap “kasar” yakni kemampuan kemudi yang minim dan belum mempunyai sistem pengereman yang mumpuni.

Draisienne, peserta IVCA RALLY 2018 di Bali
foto : IRWAN AKHMAD

Meski demikian, draisienne masih banyak digunakan di berbagai negara di Eropa saat ini. Terlebih, ada ajang tahunan internasional bertajuk International Veteran Cycle Association (IVCA) Rally yang banyak menghadirkan para pengguna sepeda veteran dari berbagai dunia. Terlepas dari kelemahan yang ada, draisienne dinilai sebagai tonggak penting inovasi menuju sepeda masa kini. Dalam anatomi kendaraan khususnya sepeda, kemudi merupakan bagian vital sehingga alat transportasi tersebut bisa diarahkan dan dikendalikan.

(Irwan Akhmad, Paguyuban Sapedah Baheula Bandoeng)

Leave a Reply

Konsultasi WA
Hallo Sobat Portal Sepeda!!
Silahkan kirim pesan WA untuk pertanyaan Sobat Portal seputar sepeda.

Nama :
Kota :
Kode Member :
Pertanyaan :

*nb : untuk mengetahui Kode Member silahkan Login terlebih dahulu
Powered by