Rumus “3 + 3” Dalam Merancang Desain Sepeda

Grasshopper / Foto : inhabitat.com

Perkembangan produsen sepeda beberapa tahun terakhir semakin meningkat. Banyak brand-brand lokal sepeda dalam negeri yang bermunculan menambah khasanah dunia pesepedaan tanah air. Ada yang membuat sepeda dengan desain/bentuk yang sebelumnya sudah ada alias sama dengan brand lain, ada pula yang hadir dengan desain khasnya tersendiri.

Berbicara mengenai desain dan rancangan sepeda, meskipun sebagian pabrikan memiliki desain/bentuk sepeda yang sama dengan pabrikan lainnya, sebetulnya masih ada pembeda dari segi bahan, komponen bahkan perbedaan kualitas. Hebatnya, di Indonesia sendiri banyak brand sepeda yang memiliki kualitas bersaing dengan brand sepeda luar negeri.

Dalam industri sepeda, desain pada suatu sepeda menjadi salah satu nilai jual utama. Desain suatu sepeda bergantung pada “racikan tangan” sang designer. Ada yang dibuat dengan bentuk yang mengutamakan performa si sepedanya pada saat digowes, ada pula yang dibuat dengan bentuk yang tidak umum.

Salah seorang Frame Designer sepeda, Aki Niaki, menjelaskan bahwa dalam merancang ataupun mendesain sepeda ada rumus “3 + 3”. Tiga pertama yaitu mengenai 3 (tiga) titik tumpuan, yakni :

1.Sadel

2. Handlebar

3. Pedal

Jika ketiga tumpuan utama tersebut sudah ditentukan titiknya, maka kita tinggal mengikuti alur desainnya mau dibentuk atau dirancang seperti apa. Ketiga tumpuan ini harus saling berintegrasi agar sepeda dapat digunakan oleh sang pengendara. Posisi pengendara ketika duduk di sadel, tangan harus dapat meraih handlebar dan kaki juga harus dapat meraih pedal dengan mudah.

Seringkali ada pesepeda yang merasakan tidak nyaman dengan sepedanya, mudah lelah atau mudah pegal saat bersepeda, itu bisa jadi salah satu indikasi bahwa sepedanya tidak sesuai dengan postur tubuh kita. salah satu bahwa rancangan sepeda kita sesuai dan nyam bagi pengendaranya jika ketiga titik tumpuan tersebut tidak menimbulkan efek negatif bagi pengendaranya.

Sedangkan tiga kedua yaitu mengenai 3 (tiga) unsur utama, yakni :

1.Fungsi

Fungsi menjadi hal yang vital saat merancang sepeda. Seperti apa bentuk sepeda yang kita buat harus berfungsi dengan baik saat dikendarai. Fungsi ini juga menyangkut pada keamanan bagi pesepeda yang menggunakannya, bisa melaju dengan baik, sistem pengeremannya berfungsi dengan baik dan lain sebagainya.

2. Geometri

Agar sepeda yang kita buat nyaman saat digunakan, faktor geometri juga menjadi perhatian saat merancang sepeda. Aki niaki mengatakan untuk diawal kita bisa mengikuti geometri sepeda yang sudah ada pada umumnya sebelum melakukan pengembangan-pengembangan lain pada sepeda rancangan kita.

3. Estetika

Sepeda juga bisa dilihat dari sudut pandang estetika dan seni. Dengan mendesain sepeda maka kita dapat bereksplorasi mengenai estetika dan seni dari bentuk sepeda yang kita rancang. Tidak heran jika banyak produsen sepeda masa kini yang membuat sepedanya dengan bentuk yang khas shingga menjadi daya tariknya tersendiri bagi konsumen

“Kalau kita mau buat sepeda yang lebih umum. Buat sepeda tanpa top tube atau batang, atau biasa disebut unisex. Agar bisa digunakan tidak hanya oleh pria tapi juga perempuan terutama yang menggunakan rok bisa menggunakannya juga.” pungkas Aki Niaki.

Aki Niaki juga berharap dengan semakin banyak orang atau produsen yang membuat sepeda di Indonesia, suatu saat di Indonesia menjadi “Satu Orang Satu Sepeda”. Selain itu juga diharapkan brand-brand lokal sepeda Indonesia dengan keunikan desain yang dimilikinya bisa merambah kancah internasional.


Leave a Reply

Konsultasi WA
Hallo Sobat Portal Sepeda!!
Silahkan kirim pesan WA untuk pertanyaan Sobat Portal seputar sepeda.

Nama :
Kota :
Kode Member :
Pertanyaan :

*nb : untuk mengetahui Kode Member silahkan Login terlebih dahulu
Powered by