Pop Up Bike Line Berbasis Komunitas

Pengecatan Lajur Sepeda Pop Up oleh Gowes Baraya Bandung / foto: doc. Rannu GBB

Euforia bersepeda pelonggaran pembatasan sosial pandemi Covid-19 di banyak kota di Indonesia akhir-akhir ini sedikitnya telah memunculkan harapan besar semoga menjadi awal yang baik semakin tingginya masyarakat membangun budaya bersepeda.

Makin ramainya pegiat sepeda juga disambut baik oleh pemerintah setempat, kehadiran dan perhatiannya menjadi sangat penting dalam menanggapi hal tersebut untuk mengatur agar para pesepeda terutama yang baru tetap tertib, teratur serta memahami dan mematuhi peraturan lalu lintas.

Kota Bandung, menjadi salah satu kota yang mengalami euforia bersepeda tersebut mendapat perhatian dari pemerintahan setempat dalam hal ini Wakil Wali Kota, Dinas Perhubungan, dan Dinas Pekerjaan Umum.

Ketiganya duduk bersama beberapa komunitas pesepeda membahas aktivitas bersepeda salah satunya menyoroti insfrastruktur sepeda dengan mengevaluasi dan  “menghidupkan” kembali lajur sepeda  yang ada serta membuat jalur baru.

pesepeda memanfaatkan lajur sepeda.
foto : doc. Agus Septian H
pertemuan pihak pemerintah dan Komunitas Membahas Lajur Sepeda Pop Up
foto : doc. Rannu GBB

Keseriusan perhatian pemerintah kota Bandung dibuktikan dengan diawali pembuatan dibuat lajur sepeda baru bersifat pop up (sementara) di Jalan Nyland Cipaganti depan rumah dinas Wakil Wali Kota, Yana Mulyana hingga Balai Kota, sepanjang 2,5 kilometer melalui Jalan Cipaganti – Jalan Pasteur  – Jalan Cihampelas – Jalan Wastukencana – Jalan LRE Martadinata, Jalan Merdeka dan menyambung lajur sepeda permanen yang sudah lama ada sepanjang jalan yang mengelilingi balai kota.

Kegiatan dilaksanakan hari Jum’at (12/6/2020), melibatkan beberapa komunitas pesepeda yaitu Jajaran Dishub Kayuh Sepeda (Jadikasep), Mobilitas Umat Tanpa Polusi (Mutasi), Eco Transport, Pelajar Nyasab, Gowes Baraya Bandung (GBB). Paguyuban Sapeda Baheula Bandung (PSBB), Roda Dispora, dan Boseh Sakuat Anjeun (BSA). Masing-masing komunitas mengerjakan pengecatan lajur sepanjang 500 meter.

Selanjutnya Dinas Perhubungan mengadakan  pertemuan lanjutan bersama komunitas membahas pembuatan lajur sepeda sementara (pop up) di seluruh ruas jalan di Kota Bandung dengan melibatkan komunitas pesepeda lebih banyak lagi.Tentunya jalan yang akan dibuat jalur sepeda pop up tersebut adalah jalur yang memang sering atau ramai dilalui pesepeda dan tidak termasuk dalam peruntukan untuk ruang parkir kendaraan yang sudah ditentukan.

Beberapa  lajur usulan sementara hasil pertemuan mengambil dari aplikasi Strava Biking Map  yaitu Jalan Kiaracondong (dari simpang Samsat) – Jalan Jakarta – Jl. Supratman  – Gedung Sate – Dukomsel – Jl. Djuanda – Jl. Diponegoro – Jl. Supratman – Jl. Ahmad Yani – Lingkar selatan Jl. Laswi – Pelajar Pejuang – Jl. BKR sampai simpang Kopo – Jl. RE. Martadinata (Riau) – Simpang BIP.

Usulan lain nantinya didapat dari usulan atau pengajuan komunitas pesepeda. Saat pengerjaan didamping oleh pihak Dishub. Komunitas pesepeda yang sudah berinisiasi dan sudah memulainya yaitu Mutasi DPU dibantu Jadikasep dan Gowes Baraya Bandung .

Lajur sepeda Pop Up
foto : doc. Away Mutasi

Apa itu pop up bike line ?

Windu Mulyana, seorang pegiat sepeda harian dan aktif dalam berbagai kegiatan terkait persoalan transportasi dan gerakan ecotransport yang dihubungi melalui whatsapp memaparkan apa itu pop up bike line.

Pop up bike lane sejatinya adalah lajur/jalur sepeda yang dibuat dengan cepat serta bersifat sementara, yang dibuat dengan berdasarkan pada kebutuhan para pesepeda yang melintasi rute/jalan tersebut, tujuannya adalah untuk memberikan keamanan serta kenyamanan pada para pesepeda untuk melaju pada sisi jalan yang sudah ditentukan.

Ada dua model dari konsep pop up bike line ; Pertama,  lajurnya jadi satu dengan jalan raya (ini yang biasa ada). Kedua, jalur menjadi satu dengan trotoar (bila ukuran lebar trotoar memungkinkan), atau yang diberikan pembatas khusus (traffic cone dan tali pembatas)

Konsep lajur sepeda tersebut muncul dari literatur-literatur  transportasi serta ‘webinar’ dengan pihak luar negeri, karena banyak diterapkan di banyak negara luar yang mengutamakan pesepeda sebagai alat transportasi.

Strava Biking Map

Misi dan visinya adalah untuk mendorong masyarakat untuk mempergunakan sepeda dengan tertib pada lajur yang sudah disediakan dan agar masyarakat tertib dalam berlalu lintas. Harapannya supaya lebih banyak lagi masyarakat yang menggunakan sepeda dengan benar dan selamat

Kelebihan dari konsep ini  bisa dibuat dengan cepat tanpa memerlukan banyak birokrasi dan material, kekurangannya adalah kualitas pengecatan biasanaya kurang bertahan lama. Kota Bandung sangat cocok menerapkan konsep lajur sepeda pop up meskipun jalannya relatif kecil-kecil, karena sifatnya adalah berbagi jalan, dengan memberikan prioritas kepada pesepeda, sehingga bila di kondisi ramai, seharusnya kendaraan bermotor lebih memberikan prioritas kepada pesepeda untuk menggunakannya.

Apalagi dalam undang-undang lalu lintas No. 22 tahun 2009 dijelaskan bahwa Pesepeda berhak atas fasilitas pendukung keamanan, keselamatan, ketertiban, dan kelancaran dalam berlalulintas.

Maka dari itu pemerintah Kota Bandung bergerak cepat membuat lajur sepeda sementara dengan melibatkan komunitas dan penggerak transportasi dengan bersepeda. Mereka juga dilibatkan dalam melakukan pendampingan secara intens dan berkelanjutan sehingga ikut memberikan banyak masukan kepada pemeritah tentang kebutuhan untuk pemasangan pop up bike lane tersebut, selain memang pemerintah kota Bandung butuh untuk melakukan aksi untuk mengatur membludaknya para pesepeda di masa pandemi Covid19 yang masih melanda saat ini

Pengecatan Marka Lajur Sepeda
foto : doc. Askur Jadiksep
Pengecatan Lajur Sepeda Pop Up oleh MUTASI
foto : doc. Away Mutasi

Aksi ‘urang‘ Bandung tersebut mendapat sorotan positif dari Institute for Transportation and Development Policy (ITDP), sebuah NGO international yang saat ini tengah mendampingi provinsi DKI Jakarta untuk pembuatan konsep – pendampingan serta monitoring berbagai program terkait transportasi.

ITDP menganggap bahwa Kota Bandung sebagai pelopor kota yang implementasi pop up bike line di Indonesia.

Sekarang tinggal publik pesepeda yang mau berperan dalam menanggapi upaya tersebut setidaknya dengan mendukung dan memanfaatkan lajur sepeda yang sudah disediakan. Salam boseh dan go green

(Cucu Hambali, Bersepeda Itu Bike)

Leave a Reply

Konsultasi WA
Hallo Sobat Portal Sepeda!!
Silahkan kirim pesan WA untuk pertanyaan Sobat Portal seputar sepeda.

Nama :
Kota :
Kode Member :
Pertanyaan :

*nb : untuk mengetahui Kode Member silahkan Login terlebih dahulu
Powered by