Pengalaman Bersepeda Jarak Jauh Saat Berpuasa

Gowes Mudik 2014 foto : Cuham

Terlepas dari persoalan menjangkitnya wabah virus Corona saat ini, setiap bulan Ramadhan merupakan momentum bersepeda dengan berbagai macam tema, salah satunya adalah gowes mudik yang setiap tahun sudah menjadi  trend tersendiri dikalangan pegiat sepeda.

Banyak pesepeda melakukan gowes mudik baik jarak dekat maupun jarak jauh. Baik lintas kota, provinsi, maupun lintas pulau.  Ada yang bergaya bikepacker ada yang bergaya bike touring. Mungkin ada pula yang bergaya pembalap, yang berangkat ala kadarnya tanpa membawa perbekalan atau gegembol dengan alasan jarak tempuhnya yang relatif pendek  atau mungkin tidak mau terlalu ribet dalam mengayuh sepedanya.

Mereka menggelar bersepeda mudik baik dilakukan bersama-sama atau perseorangan. Ada pula yang mengkordinir dan memberikan dukungan para pesepeda yang hendak bersepeda mudik.

Gowes Mudik 2017
foto : Cuham

Perjalananku

Gowes mudik itu sebenarnya berlaku bagi pesepeda yang memang jarak tempuhnya dilakukan lebih dari satu hari, baik antar propinsi maupun antar pulau dan lokasi tujuannya  memang merupakan kampung halamannya.

Perjalanan bersepeda mudik atau gowes mudik saya lebih tepat disebut sebagai bersepeda jarak jauh saat bulan puasa, karena jarak tempuhnya bisa dilakukan seharian, hanya perjalanan bersepeda antar daerah satu wilayah. Tapi mungkin karena pengaruh eforia sehingga saya anggap perjalanan itu sebagai gowes mudik juga.

Pertama kali saya melakukan perjalanan bersepeda jarak jauh saat puasa yaitu pada tahun 2013, Bandung – Purwakarta  dengan jarak tempuh sekitar 70 kilometer melalui Kota Cimahi, Padalarang, Cikalong Wetan, Darangdan, Cianting, Sukatani, Kota Purwakarta, Pasar Rebo Simpang, dan Kecamatan Pasawahan.  

Sungguh suatu perjalanan bersepeda cukup melelahkan dan penuh liku. Kondisi jalanannya bervariasi dengan tanjakan dan turunan yang silih berganti, meskipun permukaan jalan aspal relatif  mulus.

Tantangan yang paling berat adalah tempaan kegarangan kendaraan-kendaraan bermotor terutama kendaraan besar seperti truk, elf dan bus. Tantangan ini semakin komplit karena perjalanan bersepeda dilakukan dalam keadaan perut kosong karena tengah berpuasa.

Menjadi tim koordinator Gowes Mudik nasional tahun 2016
Foto : Suhe

Awalnya, ada sedikit keraguan untuk melakukannya. Namun, saat diperjalanan semangat untuk melanjutkan perjalanan semakin tinggi, apalagi sensasinya semakin terasa mengasyikan. Kondisi badan yang  fit meski berpuasa, sepedaku yang juga fit, serta kondisi cuaca yang sangat bersahabat, membuat perjalanan dapat dilalui tanpa hambatan yang berarti. Sepeda yang saya gunakan adalah sepeda MTB jadul yang groupsetnya sudah diganti dengan yang lebih baik.

Perjalanan serupa yang kedua dilakukan pada tahun 2014 dengan lokasi tujuan, jarak tempuh, dan jalan yang dilalui yang sama, yang berbeda adalah cuaca, saat itu perjalanan sering terhambat karena turun hujan sehingga sering berhenti untuk istirahat dan berteduh.

Sepeda yang saya gunakan adalah sepeda Federal tipe Street Cat yang sudah ada rak buat tas pannier. Biar terkesan gowes mudik,  saya bersepeda dengan setelan gegembol dan sengaja membawa ‘cangkang’ kupat sebagai oleh-oleh buat saudara.

Gowes Mudik 2013
Foto : Cuham
Shooting acara Flashbike Trans7 edisi Ramadhan
foto : Flashbike Trans7

Tahun 2015 dan 2016 saya tidak melakukan perjalanan bersepeda mudik tapi fokus menjadi tim koordinator Gowes Mudik Nasional yang digawangi Bike To Kampoeng bekerja sama dengan Bike To Work Indonesia dan beberapa komunitas pesepeda lainnya. Bahkan di Ramadhan tahun 2016 saya sedikit disibukan oleh kegiatan shooting video acara Flashbike Trans7, yaitu Gowes Ngabuburit, Tip Gowes Mudik dan Nigth Ride.

Baru pada tahun 2017 saya kembali melakukan perjalanan bersepeda jarak jauh saat berpuasa. Saat itu lokasi tujuan berbeda yaitu ke daerah Malangbong Kabupaten Garut. Jarak tempunya kurang lebih 50 kilometer, melalui Ujung Berung, Cibiru, Cileunyi, By Pass Ranca Ekek dan Cicalengka, Nagreg, Limbangan, Kurnia, Lewo, Malangbong, dan Bojong.

Sepeda yang digunakan adalah MTB Wimcycle yang sudah diganti groupsetnya dan dipasang rak tas pannier. Saya juga membawa perbekalan dan ‘cangkang’ kupat untuk saudara. Kondisi perjalanan cukup berbeda dengan saat menempuh perjalanan Bandung – Purwakarta, karena jalan yang dilalui merupakan jalan utama jalur pemudik ke arah Timur.

Cuaca yang panas, berdebu, kemacetan serta berjibaku dengan kendaraan menjadi tantangan yang luar biasa yang harus dihadapi selain kontur jalan yang bervariatif tanjakan dan turunan tajam serta berkelok-kelok. Perjalanan memang mengasyikan tapi lebih berat dan melelahkan, hingga saya sempat tertidur di masjid selama satu jam lebih.

Perjalanan yang ke-4 (empat) dilakukan pada tahun 2019, kembali menempuh jarak Bandung – Purwakarta melalui jalur yang sama. Sepeda yang saya gunakan adalah sepeda MTB fullsus punya teman. Meski di kasih rak tapi saya hanya membawa tas pannier sebelah dan tidak terlalu banyak bawaan. Ini perjalanan terbilang ringan dan tidak terlalu melelahkan serta nyaris tanpa hambatan.

Wawancara radio PRFM dengan para pemudik bersepeda
Foto : doc. Cuham

Semua perjalanan bersepeda jarak jauh saat berpuasa tersebut, meski berhasil saya lampui dan tiba hingga tempat tujuan tapi selalu ditempuh dengan waktu yang cukup lama, dari pagi berangkat tiba sore hari menjelang magrib, bahkan saat ke Malangbong, jam delapan malam saya baru tiba di tempat.

Itu semua karena saya sering berhenti bahkan berlama-lama untuk memulihkan tenaga, apalagi saat kondisi perut kosong karena sedang berpuasa. Kecuali perjalanan keempat, perjalanan relatif cepat, tidak terlalu banyak berhenti, bahkan sebelum dzuhur  saya sudah berada di kota Purwakarta.

Sering berhenti atau istirahat merupakan strategi saya untuk pemulihan tenaga, tidak memikirkan waktu tiba karena hanya akan memicu bersepeda cepat yang akhirnya malah kelelahan. Saya selalu mengayayuh dengan irama santai sambil menikmati perjalanan.

Kiat lain,  sebelumnya saat sahur asupannya berupa makanan dan minuman yang bernilai vitamin, tenaga dan menyehatkan. Cek kondisi sepeda terutama rem, cek perbekalan dan tidak terlalu banyak beban yang dibawa. Tetap safety bersepeda dan selalu mengalah dari laju kendaraan.

Gowes Mudik 2019
Foto : Raka B2C

Alhamdulillah, semua perjalanan saya tempuh dengan selamat. Perjalanan aman dan puasa pun tamat dijalankan. Meski melelahkan tapi sangat menyenangkan dan tentu saja merupakan perjalanan bersepeda yang menakjubkan dan penuh makna. Selamat Hari Raya Idul Fitri 1441 H. Mohon maaf  lahir batin.  Salam Boseh n Go Green.

(Cucu Hambali, Bersepeda Itu Baik)

Leave a Reply

Konsultasi WA
Hallo Sobat Portal Sepeda!!
Silahkan kirim pesan WA untuk pertanyaan Sobat Portal seputar sepeda.

Nama :
Kota :
Kode Member :
Pertanyaan :

*nb : untuk mengetahui Kode Member silahkan Login terlebih dahulu
Powered by