Parkiran Sepeda Cerminan Budaya Bersepeda

Parkiran Sepeda di Stasion Kereta Api Roosendaal – Belanda. Sumber foto : Usman M - 2011

Entah semenjak kapan jasa atau bisnis parkir tumbuh dan berkembang di Indonesia, di setiap kegiatan ekonomi dimana orang datang dan pergi dengan kendaraan hampir bisa dipastikan bahwa tukang parkir selalu ada, baik di parkiran resmi maupun parkiran liar. Biaya parkir kini menjadi salah faktor biaya yang diperhitungkan dalam banyak kegiatan ekonomi, mulai dari parkir sepeda depan minimarket sampai dengan parkir kapal kargo di pelabuhan laut. Kini parkir telah menjadi salah satu mata pencaharian yang tidak sedikit menghasilkan rupiah.

Dipandang dari sisi apakah sebuah kendaraan ditinggalkan oleh pengemudinya atau tidak, menurut Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan, dibedakan kedalam dua kategori yaitu “parkir” dan “berhenti”. Secara harpiah parkir adalah keadaan kendaraan berhenti atau tidak bergerak untuk beberapa saat dan ditinggalkan pengemudinya. Sedangkan berhenti adalah keadaan kendaraan tidak bergerak untuk sementara dan tidak ditinggalkan oleh pengemudinya.

Dari sisi definisi kendaraan menurut undang-undang lalu lintas dan angkutan jalan tersebut sepeda digolongkan kedalam Kendaraan Tidak Bermotor, yaitu kendaraan yang digerakkan oleh tenaga manusia dan/atau hewan. Dengan demikian parkir sepeda juga harus memenuhi ketentuan peraturan-perundangan yang berlaku.

Di Indonesia terkait dengan ketentuan perpakiran diatur lebih lanjut dalam Peraturan Pemerintah Nomor 79 Tahun 2013 tentang Jaringan Lalu Lintas dan Angkutan Jalan, yang merupakan turunan dari Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009. Menurut peraturan pemerintah ini tempat parkir terdiri dari dua jenis, yaitu tempat parkir di “dalam ruang milik jalan” dan di “luar ruang milik jalan”. Parkir di dalam ruang milik jalan hanya dapat dilakukan di tempat tertentu pada jalan kota, jalan kabupaten dan jalan desa, serta harus dinyatakan dengan rambu lalu lintas dan/atau marka jalan.

Fasilitas parkir di dalam ruang milik jalan harus memenuhi beberapa persyaratan, yaitu: paling sedikit memiliki 2 (dua) lajur per arah untuk jalan kabupaten/kota dan memiliki 2 (dua) lajur untuk jalan desa; dapat menjamin keselamatan dan kelancaran lalu lintas; mudah dijangkau oleh pengguna jasa; menjaga kelestarian fungsi lingkungan hidup; dan tidak memanfaatkan fasilitas Pejalan Kaki.

Penyelenggaraan fasilitas parkir di luar ruang milik jalan dapat dilakukan oleh perseorangan warga negara Indonesia atau badan hukum Indonesia berupa usaha khusus perparkiran atau penunjang usaha pokok seperti supermarket. Menurut Pasal 100 peraturan pemerintah di atas jelas secara eksplisit disebutkan bahwa fasilitas parkir tersebut dapat berbentuk taman parkir dan/atau gedung parkir dan diperuntukan untuk sepeda dan kendaraan bermotor. Khusus untuk parkir sepeda harus berupa lokasi yang mudah diakses, aman dan nyaman.

Parkiran Sepeda di Warung ANDES Soreang – Bandung
Sumber foto : Usman M – 2020

Nampaknya pengaturan tentang kewajiban adanya tempat parkir khusus untuk sepeda ini belum tersosialisasi dengan baik kepada para penyedia tempat parkir, seperti institusi pendidikan, rumah sakit, kantor pemerintahan, supermarket/mall, hotel, restoran, terminal dan stasiun kereta api. Sehingga pengendara sepeda masih kesulitan untuk memarkir sepedanya di tempat-tempat tersebut.

Dari sebagian besar penyedia tempat parkir masih memandang dengan sebelah mata terhadap perlunya parkir sepeda ini. Padahal untuk ukuran sekarang dimana para penggiat pesepeda semakin meningkat dan juga dari sisi harga sepeda yang digunakannya bisa relatif lebih mahal daripada sepeda motor atau mobil sekalipun, sudah selayaknya para penyedia tempat parkir untuk menyediakan tempat parkir khusus untuk sepeda yang sesuai dengan peraturan pemerintah di atas, yaitu mudah diakses, aman dan nyaman.

Semoga kedepan penyediaan fasilitas parkir untuk sepeda yang mudah diakses, aman dan nyaman menjadi perhatian dari Pemerintah Daerah. Para penyedia tempat parkir harus menyediakan tempat parkir yang layak untuk sepeda, jangan sampai kalah oleh warung-warung yang biasa dijadikan tempat berkumpulnya atau destinasi para pesepeda yang telah menyediakan tempat parkir khusus untuk sepeda meskipun sederhana.

Terakhir, dengan adanya upaya penyediaan tempat parkir khusus untuk sepeda ini diharapkan dapat meningkatkan budaya bersepeda di Indonesia, karena ketersediaan tempat parkir sepeda merupakan salah satu cerminan dari budaya bersepeda di suatu negara.

(Usman Muthalib)

1 thought on “Parkiran Sepeda Cerminan Budaya Bersepeda

  1. betul sekali….. gaya hidup dan budaya tercermin pada bagaimana mereka menata segala sesuatu salah satunya parkir bersepeda…

    1. Simpan pada tempatnya yang telah disediakan
    2. Rapih menyimpan sepeda, tidak seenaknya.
    3. Merasa bahwa rapih adalah keindahan dan kebersihan.

Leave a Reply

Konsultasi WA
Hallo Sobat Portal Sepeda!!
Silahkan kirim pesan WA untuk pertanyaan Sobat Portal seputar sepeda.

Nama :
Kota :
Kode Member :
Pertanyaan :

*nb : untuk mengetahui Kode Member silahkan Login terlebih dahulu
Powered by