Mitos Penaklukkan Tanjakan

Sepeda modern memungkinkan tanjakan dilalui dengan berdiri secara lebih efisien

Teknik bersepeda banyak mengalami evolusi. Inovasi yang dilakukan pembalap, pabrikan, dan pekerja dunia sepeda lain membuat banyak teknik bersepeda yang menjadi pakem di masa lalu telah menjadi “kadaluarsa” saat ini. Demikian pula teknik bersepeda di tanjakan.

Salah satu mitos adalah penaklukkan tanjakan, terutama tanjakan panjang, dengan duduk di sadel. Geometri sepeda sepeda gunung hingga sekitar tahun 2010-an memang menyulitkan untuk menaklukkan tanjakan dengan berdiri. Dengan geometri yang relatif tegak, stang pendek, dan teknologi rangka dan komponen yang belum berkembang membuat penaklukkan tanjakan dengan berdiri membuat Sobat Portal justru membuang banyak tenaga untuk mengendalikan sepeda.

Menaklukkan tanjakan dalam posisi berdiri membuat sepeda juga lebih fleksibel mengikuti permukaan lintasan. Roda sepeda, baik depan atau belakang yang menabrak obstacle seperti batu, akar, dan lain-lain membuat laju sepeda sedikit tertahan. Saat menanjak sambil duduk di sadel, obstacle tersebut menahan laju sepeda dan Sobat Portal sekaligus. Saat berdiri tahanan tersebut akan diserap oleh kaki dan tangan Sobat Portal untuk mempertahankan laju sepeda.

Mitos lama tentang menaklukkan tanjakan dengan berdiri adalah hal tersebut menguras energi. Teknik yang umum digunakan adalah membiarkan core (badan utama, dari pinggang sampai leher) Sobat Portal di posisi maju sestabil mungkin. Dengan posisi tersebut tenaga yang dikeluarkan kaki lebih optimal untuk membuat sepeda maju, bukan untuk menggerakkan badan Sobat Portal naik turun atau kiri kanan.

Menaklukkan tanjakan dalam posisi berdiri juga membuat Sobat Portal bisa mengendalikan distribusi berat dengan lebih luwes. Saat menanjak dalam lintasan yang mulus berat badan bisa sedikit dialihkan ke depan. Hal ini dilakukan untuk menekan ban depan sepeda dan penyaluran tenaga yang lebih sejajar dengan arah gerak sepeda.

Di lintasan yang kurang ideal, terkadang ban belakang tidak mendapat traksi, saat menanjak berdiri. Berat bisa dengan mudah dipindahkan ke belakang. Untuk beberapa lintasan tanjakan yang sulit, distribusi berat ini bisa dipindahkan secara cepat untuk keluar dari jebakan lintasan, seperti halnya pesepeda trials menaklukkan lintasannya.

Akhir-akhir ini ditawarkan gir dengan rasio sangat rendah, chainring 32T yang menarik freewheel 50T misalnya. Rasio serendah ini dirancang untuk menaklukkan lintasan tanjakan sepeda gunung modern yang sarat obstacle sehingga sepeda pun bahkan sulit untuk dituntun. Dipadukan dengan sistem suspensi yang baik, gigi rasio ini akan lebih mudah menaklukkan tanjakan dibandingkan dengan dituntun.

Untuk keadaan tidak seekstrem itu, seperti di jalan mulus, saat kecepatan turun lebih rendah daripada kecepatan berjalan kaki, akan lebih efektif menuntun sepeda. Menuntun sepeda dapat mengistirahatkan otot yang digunakan untuk bersepeda.

(Gustarmono)

Leave a Reply