Login

Register

Login

Register

Membangun Budaya Gerakan Bersepeda

Kota yang humanis adalah kota yang aman dan nyaman bagi pejalan kaki dan pesepeda. Tidak hanya berfokus pada pembangunan infrastruktur bagi kendaraan bermotor saja, kaum pesepeda dan pejalan kakipun harus difasilitasi dengan layak. Karena dengan adanya fasilitas (khususnya fasilitas sepeda) maka akan semakin banyak masyarakat yang tergerak untuk menggunakan sepeda sebagai alat transportasi yang ramah lingkungan.

Beberapa waktu lalu warganet ramai memperbicangkan mengenai sebuah studi terbaru yang mengatakan bahwa kota Bandung menjadi kota termacet di Indonesia, melebihi macetnya Ibukota Jakarta. Apakah benar demikian ? Jika memang benar, apa yang mesti kita lakukan sebagai penhuni Kota yang dijuluki Parisj Van Java ini ?

“Membangun Budaya Gerakan Bersepeda” merupakan sebuah FGD (Forum Group Discussion) yang diselenggarakan oleh Dinas Perhubungan Kota Bandung. Dalam acara ini menghadirkan pembicara dari Bike To Work Indonesia dan Ecotransport.

Tidak kurang dari 100 tamu undangan yang merupakan perwakilan-perwakilan komunitas sepeda hadir dalam acara diskusi ini. Gowes Bareng (Gobar) mengawali rangkaian acara ini, start dari Taman Sejarah Kota Bandung menuju lokasi acara di Hotel Malaka. Meski rintik hujan turun disaat Gobar tidak menyurutkan semangat peserta yang hadir. Setibanya di lokasi acara terlebih dahulu peserta santap malam sembari rehat sebelum acara initi dimulai.

Ferlian Hady selaku perwakilan dari Dinas Perhubungan Kota Bandung terlebih dahulu membuka sesi diskusi ini. Ia secara ringkas memapakar mengenai 3 isu utama permasalahan lalu-lintas di Kota Bandung yakni kemacetan, jumlah kecelakaan dan isu lingkungan.

Kemacetan di Kota Bandung memang kian hari kian terasa, tak heran jika Kota Bandung dinobatkan sebagai kota termacet di Indonesia melebih kemacetan Jakarta. Salah satu faktanya dilihat dari rata-rata kecepatan bersepeda di Kota Bandung. Pada pagi hari rata-rata kecepatan berkendara 17.81 km/jam, lalu pada siang hari 17,15 km/jam, sedangkan pada sore hari hanya 11,49 km/jam saja rata-rata kecepatan bersepedanya. Hal itu nampak jelas bahwa kemacetan lalu-lintas paling padat pada sore hari.

Angka kecelakaan lalu-lintas pada tahun 2018 tercatat sebanyak 27.910 nyawa melayang akibat kecelakaan lalu-lintas. Atau dengan kata lain setiap 3 menit sekali terdapat korban jiwa akibat kecelakaan lalu lintas tersebut.

Isu ketiga yang dibahas yakni mengenai dampak kemacetan terhadap lingkungan. Kemacetan tak hanya berdampak dari segi kerugian finansial saja namun juga pada lingkungan dan kesehatan. Semakin macet berati semakin banyak polusi udara yang dihasilkan. Studi mengatakan bahwa polusi asap kendaraan lebih berbahaya bagi kesehatan dibanding asap rokok.

“Para pemangku kebijakan perkotaan di negara ini sadar atau tidak telah menjebak warganya menikmati berbagai persoalan yakni kemacetan, polusi udara, laka lantas, area parkir dan lain sebagainya” tegas Poetoet Soedarjanto, Ketua Bike To Work Indonesia.

Atas dasar hal itu Dinas Perhubungan Kota Bandung sedang berfokus pada dua aspek program pembinaan transportasi, yakni “Kampanye & Pembinaan Kebijakan Bidang Perhubungan” dan “Kampanye & Kebijakan Program Kendaraan Ramah Lingkungan (ecotransport)”.
Dalam hal transportasi ramah lingkungan, gerakan bersepeda menjadi program yang sedang digalakan oleh Dinas Perhubungan Kota Bandung bersama Ecotransport sejak beberapa tahun kebelakang. Tercatat sudah ada 4 (empat) budaya “Bikeable City” yang rutin dilaksanakan oleh banyak pihak, antara lain Jumat Bersepeda, Bandung Night Ride, Pelajar Nyasab dan Bandung 1001 sepeda yang menjadi agenda tahunan.

Hendro Talenta selaku penggagas gerakan Ecotransport mengatakan bahwa sebuah program atau gerakan tanpa adanya kolaborasi merupakan hal yang musthail dilakukan. Maka dari itu dalam membangun dan menumbuhkan gerakan bersepeda di Kota Bandung perlu didukung oleh semua pihak mulai dari komunitas, media, masyarakat umum, pihak swasta atau pelaku usaha, dan tentunya pemerintah juga. Mari sama-sama kita semua budayakan gerakan bersepeda, mewujudkan kota yang lebih humanis, hijau, aman dan nyaman bagi pesepeda. Kalau bukan kita, siapa lagi ?

“Kami Ingin Bandung Menjadi Lautan Sepeda, Bukan Menjadi Lautan Kendaraan Lagi”

Dishub Kota Bandung

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *