Melatih Skill Sepeda Gunung Saat Cuaca Hujan

Bersepeda di Cuaca Hujan. Foto: MudTrekMTB

Musim hujan menjadi halangan banyak pesepeda untuk tetap bersepeda, terutama pesepeda yang bersepeda sebagai hobi. Banyak yang memilih menunda atau membatalkan bersepeda karena menganggap bersepeda di cuaca hujan hanya mendatangkan kesulitan. Sepeda yang dianggap kurang mumpuni, kemungkinan celaka, dan masalah lain bisa mengurungkan niat bersepeda.

Di balik kesulitan itu, bersepeda gunung di cuaca hujan bisa menjadi kesempatan emas untuk meningkatkan keahlian bersepeda. Banyak dari pengalaman bersepeda di cuaca hujan tersebut dapat diaplikasikan sepanjang tahun. Pemilihan sepeda dan perangkatnya, masukan nutrisi, hingga pengendalian sepeda dapat meningkat setelah kita terbiasa bersepeda di cuaca hujan.

Bersepeda di cuaca hujan dapat menjadi indikator kesehatan sepeda. Perawatan yang kurang bagus akan merusak sepeda lebih cepat saat digunakan di cuaca hujan. Kabel yang kotor, ban yang sudah mulai botak, rantai yang mulur, hingga kampas rem yang menipis hanya akan menjadi gangguan minor di cuaca cerah, namun saat cuaca hujan hal ini bisa menyebabkan sepeda tidak bisa digunakan atau menyebabkan kecelakaan.

Mencuci sepeda setelah digunakan di cuaca hujan harus segera dilakukan sebelum karat dan kontaminan lain semakin merusak sepeda. Waktu yang sempit yang tersisa setelah bersepeda atau menggeser pencucian sepeda ke malam hari mengharuskan kita melakukan pencucian dan perawatan dengan lebih sistematis. Kotoran yang terlewat setelah mencuci sepeda pun lebih terlihat dibandingkan setelah digunakan di cuaca cerah. Biasakan pula mengecek komponen yang aus, seperti kemuluran rantai dan kampas rem setelah mencuci sepeda.

Selain soal sepeda, cuaca hujan juga bisa meningkatkan keahlian dalam mempersiapkan fisik. Nutrisi yang kurang bisa berakibat fatal. Demikian pula dengan asupan cairan. Cuaca dingin sering membuat pesepeda lupa minum. Walau begitu badan kita tetap membutuhkan cairan karena tetap bekerja mengeluarkan tenaga. Banyak kejadian pesepeda yang keram saat bersepeda di cuaca hujan yang sebenarnya mudah dicegah jika cukup minum. Selain itu, istirahat yang cukup sebelum bersepeda sangat penting, baik dalam cuaca cerah, dan semakin penting saat bersepeda di cuaca hujan.

Faktor pesepeda juga termasuk pakaian yang digunakan. Pakaian bersepeda dengan kualitas baik dapat mengurangi kehilangan panas badan jika dibandingkan bahan pakaian bersepeda berkualitas rendah. Hindari juga menggunakan pakaian berbahan katun atau wol yang menyerap air. Air hujan yang diserap pakaian menyebabkan panas badan langsung hilang.

Bagaimana dengan jas hujan? Bersepeda di Indonesia diberkahi dengan cuaca yang hangat. Sisi lain dari berkah ini adalah kita dapat bersepeda tanpa jas hujan jika intensitas bersepeda kita tetap tinggi. Bersepeda dalam intensitas tinggi menggunakan jas hujan menyebabkan panas terperangkap di dalam jas hujan. Walau begitu, segera mungkin gunakan jas hujan saat berhenti bersepeda untuk menjaga panas yang keluar saat bersepeda agar menghangatkan badan yang sudah relaks. Gunakan juga jas hujan jika intensitas bersepeda kita tidak terlalu tinggi.

Hal yang terakhir dapat kita manfaatkan dari bersepeda di cuaca hujan adalah pengendalian sepeda. Bersepeda di cuaca hujan identik dengan traksi ban yang rendah. Ini bisa dimanfaatkan untuk mengenal sepeda lebih baik. Hal-hal seperti teknik drifting, menjaga momentum, dan reaksi cepat membaca lintasan diasah dengan sangat baik saat cuaca hujan. Demikian pula dengan pengereman, banyak pesepeda pemula yang terlalu mengandalkan rem belakang untuk mengurangi laju, bahkan untuk menghentikan sepeda. Saat cuaca hujan, rem belakang hanya akan membuat sepeda bergerak liar. Cuaca hujan melatih kita untuk mengandalkan rem depan untuk mengurangi laju sepeda dengan tetap menjaga roda sepeda berputar.

Cuaca hujan menjadi kesempatan emas untuk menaikkan tingkat bersepeda kita.

Leave a Reply