Keindahan Yang Disembunyikan

foto : Bhayo Semeroe

Apabila Cimincul, di Subang merupakan sebuah mata air yang dimiliki pribadi dan dikomersilkan menjadi objek wisata oleh pemiliknya tapi berbanding terbalik dengan air terjun (Curug) Bugbrug ini, lokasi milik perseorangan ini pun unik, sang pemilik malahan tidak berkeinginan tempat ini dijadikan objek wisata tapi malah ingin mempertahankan keasriannya, demi mewujudkan cita-citanya kelak nanti.

Ajakan YukGowesEiger untuk bersepeda kemarin ke lokasi ini tentu tak disia-siakan. Nama Bugbrug untuk air terjunnya sepertinya baru pertama kali juga mendengar padahal lokasinya, bagi para goweser yang sering berlatih nanjak di sepanjang jalanan Kolonel Masturi dari kota Cimahi menuju Lembang atau sebaliknya tentu tak asing dan selalu terlewati. Letaknya sangat dekat dengan Curug Cimahi (Curug Pelangi) malahan aliran sungai kecilnya itu bertemu menjadi satu dengan Curug Cimahi tersebut.

foto : Bhayo Semeroe

Tepat di pertemuan titik naik menuju Universitas Advent setelah turunan panjang dari pintu masuk objek wisata Curug Cimahi (dekat terminal angkot). Tak menyangka bila tak jauh dari titik tersebut (jembatan) ada sebuah pintu yang memang “No trespassing” dilarang masuk dan tertutup untuk umum tapi dibaliknya ada sebuah keindahan tersembunyi.

Menempati areal sekitar 15 hektar, saya sendiri dibuat takjub ketika selepas gerbang tadi mulai memasuki areal ini. Topografi dan vegetasi lokasi yang berada di lembahan memang memiliki ciri khas yaitu mengalir sebuah sungai serta tebing-tebing yang memiliki kontur kemiringan nyaris 90 derajat mengapit dikiri kanannya, sebagian malahan berdinding cadas batu dan sebagiannya merupakan teras yang di karyakan menjadi ladang-ladang sayur mayur. kalau dilihat persis sebuah mangkuk memanjang.

Nah dibagian pojok itulah terdapat sebuah Air terjun yang deras mengalir. diperkirakan memiliki ketinggian 50-60 meteran. Nama Bugbrugnya sendiri diambil dari kata jatuhan bunyi air (saking banyaknya debitnya) ketinggian tersebut sama persis ketinggian cekungan yang mengitari lokasi privat ini. Tanda yang bisa dikenali tentu patok-patok putih yang melingkari menjadi batas kepemilikan lahan ini yang konon dimiliki Pengusaha orang Bandung juga.

foto : Bhayo Semeroe

Dibagian muka memang ada sebuah kolam yang ditanami ikan-ikan Koi dan ikan lainnya. Penataan ini menurut penjaga sisa dahulu pernah beberapa saat dibuka untuk umum (Gratis), tapi karena makin lama makin tak bisa dibendung kerusakan yang ditimbulkan, Pemilik akhirnya benar-benar menutupnya. Memasuki lebih jauh menuju Air terjun, saya benar-benar seperti ada di film ala-ala Indiana Jones, ketika memasuki kawasan yang memang keasriannya benar-benar dijaga. Seperti yang lainnya, pemandangan air terjun selalu indah selalu ada kolam penampungannya yang selalu berisik, berair jernih, dan berkabut akibat dari dentuman air yang jatuh berkubik-kubik setiap detiknya.

Selain ladang huma yang digratiskan pemiliknya untuk bercocok tanam dilembahannya, Pohon salada air mendominasi di areal flat sungainya yang membentuk sawah-sawah yang selalu terairi ini. Konon saladah air ini memang dibudidayakan oleh penjaga lokasi, untuk diekspor ke Singapura. Saladahnya memang berbeda dari yang biasa saya temui di warung Makan “laksana”, ini sangat gemuk, subur dan daunnya besar-besar. Sejauh mata memandang memang arealnya dipenuhi dengan pohon yang satu ini.

Dalam hati menggelitik juga berpikir, di negeri ini ternyata air terjun, sungai kecil, lembah yang begitu luas bisa dipagar dan dimiliki secara pribadi, bersertifikat Hak Milik pula, tak beda jauh sepertinya dikiri kanannya. Bedanya dilokasi tersebut justru tengah giat-giatnya dibangun. kalau tidak perumahan segelintir elit, atau menyulap lokasi yang konon tempat resapan air itu menjadi objek wisata premium.

Tapi ditengah “kekonyolan” tersebut terbersit rasa bangga bagi pemilik Curug Bugbrug ini yang masih memiliki hati untuk mencintai lingkungan hidup dan berusaha mempertahankan keasriannya. Seperti cita-citanya kelak bila beliau telah tiada, katanya beliau berkeinginan ada sepetak lahan atau bidang yang bisa dinikmati khalayak umum yang masih terjaga keasriannya dan berharap menyumbangkan udara segar selamanya dari petak tersebut.

foto : Bhayo Semeroe

Jikalau di negeri ini ada banyak orang-orang yang hartanya “Unlimited” seperti ini dan memiliki keindahan hati yang tak terbatas pula, barangkali kawasan bandung utara ini bisa terselematkan. Saya salut untuk pemilik yang tidak mau disebutkan namanya serta terima kasih kepada nara sumber yang memfasilitasi hingga kami bisa menikmati keindahan yang disembunyikan itu yang maaf saya pun tidak sebutkan Namanya agar tetap terjaga keasrian daerah ini.

(Bhayo Semeroe)

Leave a Reply

Konsultasi WA
Hallo Sobat Portal Sepeda!!
Silahkan kirim pesan WA untuk pertanyaan Sobat Portal seputar sepeda.

Nama :
Kota :
Kode Member :
Pertanyaan :

*nb : untuk mengetahui Kode Member silahkan Login terlebih dahulu
Powered by