Geliat Wisata Sepeda di Tengah Pandemi Corona

Sejumlah wisatawan asing sedang menikmati wisata desa dengan bersepeda. Foto : towilfiets

Yogyakarta memang tidak pernah bisa dipisahkan dengan pariwisata. Sebagai salah satu kota destinasi wisata di Indonesia, membuat sebagian warga Yogyakarta menggantungkan hidupnya dari sektor pariwisata. Salah satunya adalah wisata sepeda.

Towil pemilik dan pendiri Tour Sepeda Wisata desa Towilfiets.
foto : Chandra Adi N

Adalah Towilfiets, penggiat wisata sepeda yang bermukim di Kulon Progo Daerah Istimewa Yogyakarta. Nama towilfiets sebenarnya gabungan antara nama pemiliknya yakni Muntowil dan fiets yang dalam bahasa Belanda berarti sepeda. Towil mengelola wisata sepeda dari tahun 2007 bersama sejumlah rekannya. Konsep wisata sepeda yang ditawarkan Towilfiets terbilang unik yakni wisata desa. Dalam tour wisata desa ini wisatawan diajak berkeliling desa menggunakan sepeda onthel atau sepeda klasik yang sudah tidak diproduksi lagi.

Sepeda-sepeda tersebut rata-rata buatan Eropa dan sudah berumur puluhan tahun seperti sepseda merk Gazelle, Fogrs, Simplex, Raleigh, BSA, Humber dan masih banyal lagi. Sambil berkeliling menikmati suasana alam pedesaan, wisatawan diajak berinteraksi dengan aktivitas sehari-hari yang dilakukan warga. Mulai dari bertani di sawah, membuat kerajinan, memasak di dapur tradisional, dan banyak aktivitas lain.

Wisatawan dari luar negeri sedang menikmati wisata desa.
Foto : towilfiets

Bagi sebagian masyarakat Indonesia, tentu aktivitas tersebut sudah sangat lazim. Namun bagi wisatawan asing aktivitas tersebut bisa dibilang pengalaman yang luar biasa. Maka tidak heran jika peminat tour wisata desa yang ditawarkan oleh Towilfiets ini sangat diminati oleh wisatawan luar negeri terutama dari negara Eropa seperti Belanda, Jerman, Italy, Swiss dan Inggris. Menurut Towil sekitar 95 persen wisatawan yang datang dari luar negeri, selebihnya adalah wisatawan lokal Indonesia.

Di masa pandemi virus Korona ini industri pariwisata adalah sektor yang paling terdampak parah. Termasuk wisata sepeda yang dikelola Towil. Menurut Towil pada bulan April sampai Mei ini sebenarnya jadwal tamu dari luar negeri yang booking sudah penuh. Namun karena pandemi virus Corona ini sejumlah tamu mimilih membatalkan kunjungannya atau menggeser jadwalnya hingga tahun depan. Akibatnya omset atau pemasukan menurun hingga 100 persen, atau tidak ada pemasukan sama sekali.

“Pemasukan zero karena semuanya cut, income saya yakin cut semuanya baik travel agent, guide, dan pelaku wisata pastinya, ini pelajaran sangat berharga untuk kita semua, keaadaan ini tidak pernah kita bayangkan sebelumnya” kata Towil.

Hal ini tentu juga berdampak terhadap warga sekitar yang selama ini ikut menggantungkan hidupnya dari sektor pariwisata. Namun demikian sejumlah warga bisa mnyiasatinya karena memang sehari-hari beraktivitas tidak sepenuhnya di pariwisata tapi di sektor lain. Misalnya tetap menggarap sawah, membuat kerajinan, membuat makanan tradisonal, meski tidak menutup kemungkinan penghasilannya tetap menurun sejak pandemi virus Corona muncul.

Towil dengan koleksi sepeda onthelnya.
Foto : Chandra Adi N

Towil berharap roda wisata akan kembali seperti semula, nantinya ia akan lebih konsen terhadap isu kesehatan dan tentunya peristiwa ini membuat jalinan antar sesama komunitas menjadi lebih erat. Kerena wisata yang ia bangun tidak sekedar liburan saja tapi ada sisi edukasi dan keterlibatan masyarakat di dalamnya.

(Chandra Adi N)

Leave a Reply

Konsultasi WA
Hallo Sobat Portal Sepeda!!
Silahkan kirim pesan WA untuk pertanyaan Sobat Portal seputar sepeda.

Nama :
Kota :
Kode Member :
Pertanyaan :

*nb : untuk mengetahui Kode Member silahkan Login terlebih dahulu
Powered by