FEDERAL1ST DEWADARU, #MenolakLupa “Komunitas Federal Pertama”

FEDERAL1ST DEWADARU | Minggu 22 September 1991, Gunung Papandayan Garut. Hanya berbekal semangat, Daypack Alpina 25 liter, gemerincingnya kalung Dogtag, Bandana, kacamata “cengdem” seharga Rp.1.500,-, Sepatu Kasogi tak berkaus kaki yang belakangnya lepes karena selalu diinjak, Topi dan celana pink pantai oleh-oleh dari lombok sebelumnya serta jaket parasit kebanggan seragam Unit Karate kampus. Perasaan sih tak kalah keren dengan uniform asal-asalan seenaknya juga rekan lainnya.

Hari terik panas itu memang jelang akhir perjalanan, memipir jalan setapak jalur selatan berbatu Papandayan melewati Pondok Saladah tembus Pangalengan dan finish kembali di Kampus Bandung (Touring/Loop). Tetap bersemangat walau sebelumnya menggenjot sepeda dari Kota Bandung, melalui keruwetan macet Cicalengka lama – Nagreg – Garut (Dulu belum ada lingkar Cicalengka dan Nagreg) via Bayongbong dan masuk melalui Desa Cisurupan. Semuanya menggunakan sepeda Federal berbagai tipe, Sepedanya masih ‘gres’ keluaran Federal tahun-tahun itu tentunya.

Federalist Dewadaru 1991
Foto : doc. Dewadaru – Bhayo SemerOe

Tak disangka, setelah pabrik Federal yang diproduksi oleh Federal Cycle Mustika ditutup karena di hajar isu Dumping, seiring dengan perkembangan olahraga bersepeda itu sendiri kini banyak menjamur komunitas Sepeda Federal di berbagai kota. Bahkan saking antusiasnya hanya beranggotakan beberapa personel saja di Bandung atau kota lainnya banyak juga yang mendirikan klubnya berbasis Sepeda Federal. Nama-nama komunitasnya unik sesuai dengan lokasi berada tentu dengan logo Federal yang menjadi ciri khas utamanya.

Tak jelas kapan dimulainya tapi berawal dari seorang pemuda bernama Bagas Triaji pemilik Federal yang berasal dari Jogjakarta sekitar Januari 2009 tak sengaja menggugah sebuah foto di jejaring sosial. Unggahan fotonya sepeda Federalnya malah mendapatkan respon yang cukup banyak. Itulah titik awal terbentuknya Komunitas Federal Indonesia, setelah belasan tahun tak diproduksi lagi sepeda kebanggaan negeri ini. Di Komunitas Federal Indonesia Bandung nama Endra Ginanjar tentu tak dapat dilupakan juga dalam upayanya merintis serta mengumpulkan para pemilik sepeda Federal untuk berhimpun dalam sebuah komunitas yang sebelumnya banyak malu dan sungkan itu.

Federalist Dewadaru 1991
Foto : doc. Dewadaru – Bhayo SemerOe

Jika memang ditahun 2009 orang mulai “ngeh” akan sepeda Federal dan mulai membentuk komunitas serta menyebar diseluruh kota besar terutama di Pulau Jawa hingga kini, Justru tanpa publikasi tahun 1990 kami di Dewadaru sudah mengawalinya jauh-jauh hari, malahan pabriknya masih gencar-gencarnya berproduksi kala itu. Dalam benak bisa berbesar hati juga ya walau tanpa disadari bisa jadi (bila benar) kami komunitas Federal pertama waktu itu yang bangga akan ketangguhan sepeda ini, serta digunakan sesuai fungsinya.

Masa itu sepertinya belum terdengar komunitas Sepeda Federal lain setidaknya di Kota Bandung ini. Sebenarnya kami tidak fokus pada Federalnya saja tapi ada hal lain juga yang menyebabkan terbentuknya Unit Kegiatan Mahasiswa itu, “racun” nya adalah salah seorang yang jadi panutan kami waktu itu terutama dikalangan pencinta alam, tentu tak lain adalah Mas Paimo (Bambang Hertadi). Beliau yang sejak tahun 1980 mendaki puncak-puncak gunung di Indonesia selalu menggunakan sepeda (walau bukan sepeda Federal) mengganggu adrenalin kami untuk mencoba “mainan baru” tersebut. Malahan belakangan beliau Justru menggunakan sepeda Federal berbahan Chromoly untuk mengelilingi dunia. Paimo sendiri menuntaskan misi besarnya hingga tahun 2010.

Federalist Dewadaru 1991
Foto : doc. Dewadaru – Bhayo SemerOe

Komunitas Federal yang kami bentuk pada waktu itu memang merupakan turunan dari divisi mendaki gunung yang kami miliki di Himpunan. Sepeda Federal diposisikan sebagai alat untuk mencapai sebuah perjalanan dalam hal ini mendaki gunung sejauh mungkin sepeda itu bisa dikayuh hingga puncak, bila perlu sepeda itu “dipanggul” bila trek yang ditemui sudah tidak bisa dilalui. Trend membawa sepeda kepuncak gunung waktu itu memang sudah mulai merebak, walau ke-aku-an ini dahulu bisa mengangkat pamor juga nama perhimpunan juga sipelakunya, tetapi rasa petualangan yang berbeda merupakan pemicu utama dari semuanya.

Karena rasa mendaki gunungnya masih kental, terkadang uniform pesepedanya terabaikan. Pakaian alakadarnya tak tertarik dengan trend fashion yang seharusnya dikenakan, bahkan dalam latihan keseharian yang biasa kami lakukan di Cartil, Dago Bengkok, Palintang, Gunung Puntang, Lembang dan Gunung Manglayang tembus Cibodas Lembang yang pada masa-masa itu masih lengang didatangi para pesepeda. Seingat kami, sepertinya tak pernah membicarakan pannier, groupset yang mumpuni serta asesories sepeda.

Federalist Dewadaru 1991
Foto : doc. Dewadaru – Bhayo SemerOe

Bahkan teknik perpindahan gigi serta teknik mengayuh perasaan tidak pernah dibahas dalam latihan maupun perjalanan treking. Tidak kuat tinggalin, biar dia nyusul secepatnya, atau dibuat “malu” apalagi sampai koneng”, muntah biar dia serius latihannya, trik itulah yang jadi pemicu. Kecepatan, kekuatan serta tangguh jadi modal dalam olahraga ini kami dahulu. Karena medan yang akan kami lalui memang tidak main-main nantinya.

Komunitas Federal ataupun sepeda lainnya kini memang sangat berbeda, apalagi media sosial jadi sarana bantu lain dalam mempromosikan serta mempermudah rekruitmen maupun agenda-agenda perjalananya ditunjang kemudahan sharing photography yang membuat semakin riuh saja dan tentu ini sah-sah saja. Sepeda kini dijadikan sarana perantara untuk berkumpul, bersilaturahmi memperbanyak teman, bahkan memperbanyak relasi bagi mereka yang sedang berbisnis. Tentu olahraga bersepedanya sendiri tetap dilakukan dengan mengadakan gowes rutin secara berkala ke tempat-tempat wisata yang mengasikkan bersilaturahmi tersebut.

Federalist Dewadaru 1991
Foto : doc. Dewadaru – Bhayo SemerOe

Pada perjalanan komunitasnya bentuk kegiatan bisa jadi menyebar. Ada penyuka gowes santai, touuring jarak jauh hingga cross country. Bahkan di kalangan Federal sendiripun terbentuk dua aliran; yang ingin mempertahankan keaslian sepedanya atau memperbaharui sepeda Federalnya dengan tidak meninggalkan ciri-cirinya. Ada yang disimpan tak pernah dipakai hanya untuk koleksi, bagi yang kreatif malah ini dijadikan ajang bisnis yang menguntungkan.

Kegiatan bersepeda di komunitas bersepeda dengan pemahaman dan konsepsi berbagai kepala masing masing memang memunculkan dinamika bermacan-macam belum lagi kemajuan pesat dalam industri sepeda kadang-kadang membuat kesenjangan diam-diam dalam berprilaku bersepeda (mudah-mudahan ini salah). Intrik, ego kadang juga terselip didalamnya yang menjadikan kegiatan ini kadang-kadang melupakan esensi awalnya yaitu olahraga dan bikin orang sehat.

Federalist Dewadaru 1991
Foto : doc. Dewadaru – Bhayo SemerOe

Banyaknya muncul komunitas jadi acuan bahwa kesepahaman dan nyaman dilingkungan yang bisa mengerti masih jadi ciri khas komunitas ini, walau kelemahannya kita bisa juga bosan dengan orang yang itu-itu saja. Komunitas yang kreatif, punya misi dan target kuat serta disiplin dalam menjaga kontinuitas misi dan aktifitasnya memang barang langka saat ini, walau tidak mesti kaku dan serius bawaannya. Apalagi bila didukung individu yang solid dan mumpuni, alih-alih profesional dalam bidangnya.

Bersepeda dan berkomunitas bisa juga pelarian dari masalah pribadi, tak dipungkiri melupakan sejenak dengan bersepeda tentu pemenuhan yang positif. Siapa tau ketika mengayuh dalam kesendirian bisa mengkalkulasi diri dan menemukan solusinya, menghajar batasan kekuatan kita mengayuh pedal sekuat tenaga bisa jadi pelampiasan menyenangkan. Tapi ada juga sebagian orang bersepeda “Kumaha Angin”, orang yang kadang lupa bersepeda ini mesti ngapain yah.

Pilihannya, bisa jadi kita sendiri adalah salah satu diantara bentuk-bentuk diatas. Saya sendiri kangen dengan komunitas Himpunan dahulu. walau kini sepertinya sulit untuk diwujudkan, karena keterbatasan menyergap disana-sini. Tapi percayalah, berkomunitas atau berjalan sendiri memang tinggal memilih. tinggal kembali ke esensi awal. Hobi yang menyenangkan, sehat dan bersih hati tentu harus tetap dipertahankan. Jangan lupa memompa adrenalin juga rumus sehat lainnya.

Federalist Dewadaru 1991
Foto : doc. Dewadaru – Bhayo SemerOe

Hormat dan bangga untuk Team : Agus Widiana, Ganis Hargono, Agus Wandi Kamajaya, Erick Chairul, Kartiwa Uwo, Arief Hage Arjuno, Buyung M Kusen dan Aditya Juni Utomo … #JasamuAbadi

(Bhayo SemerOe)

Leave a Reply

Konsultasi WA
Hallo Sobat Portal Sepeda!!
Silahkan kirim pesan WA untuk pertanyaan Sobat Portal seputar sepeda.

Nama :
Kota :
Kode Member :
Pertanyaan :

*nb : untuk mengetahui Kode Member silahkan Login terlebih dahulu
Powered by